<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>CAKRA-8</title>
	<atom:link href="http://cakra8.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://cakra8.wordpress.com</link>
	<description>We don't leave Fun behind</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Oct 2008 08:33:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='cakra8.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>CAKRA-8</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://cakra8.wordpress.com/osd.xml" title="CAKRA-8" />
	<atom:link rel='hub' href='http://cakra8.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Donor Darah Cakra 8, ARCAT dan MENWA UI</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/10/20/donor-darah-cakra-8-arcat-dan-menwa-ui/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/10/20/donor-darah-cakra-8-arcat-dan-menwa-ui/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Oct 2008 06:34:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft Gun]]></category>
		<category><![CDATA[ARCAT]]></category>
		<category><![CDATA[Cakra-8]]></category>
		<category><![CDATA[Donor Darah]]></category>
		<category><![CDATA[MEnara HUtan UI]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa UI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 18 Oktober 2008, Cakra , ARCAT dan MENWA UI mengadakan kegiatan donor darah di Markas Komando MENWA UI. Kegiatan ini berhasil menjaring sekitar 50 orang pendonor darah, baik dari unsur mahasiswa, masyarakat sekitar MAKO MENWA UI, para Airsofter dan juga alumni Menwa UI. Selain melakukan donor darah, Cakra 8 juga mengadakan wahana tembak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=48&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pada tanggal 18 Oktober 2008, Cakra , ARCAT dan MENWA UI mengadakan kegiatan donor darah di Markas Komando MENWA UI. Kegiatan ini berhasil menjaring sekitar 50 orang pendonor darah, baik dari unsur mahasiswa, masyarakat sekitar MAKO MENWA UI, para Airsofter dan juga alumni Menwa UI. Selain melakukan donor darah, Cakra 8 juga mengadakan wahana tembak reaksi Airsoft Gun. Sayangnya wahana ini tidak terlalu diminati pengunjung, mungkin karena takut melihat senjata-senjata Cakra 8. Tetapi tidak bagi para calon anggota Menwa UI, mereka sangat bersemangat mengikutinya. Acara tersebut selesai sekitar jam 12 siang, kemudian para pengunjung bersantap siang dengan nasi kotak yang telah disediakan panitia.<span id="more-48"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Setelah selesai bersantap siang para Airsofter (Tim Cakra 8 dan ARCAT) menuju hutan UI untuk melakukan ritual Skirmish. Ritual ini merupakan pertemuan pertama Cakra dan ARCAt setelah bulan puasa. Cakra sendiri selam bulan puasa melakuakan kegiatan latihan skirmish dua kali. Bahkan beberapa dari kami juga mengikuti dua kali skirmish yang diadakan Code-4 di Jagakarsa, atas undangan Den-05.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada skirmish ini, ronde pertama diadakan di sekitar menara hutan UI dengan skenario perebutan menara. Pada ronde ini Tim Cakra menderita kekalahan, Wecky dan penulis tertembak dahulu, lalu disusul oleh Phantom dan Bang Rudy. Sedangkan Cheetah, membuktikan kehandalannya dengan menembak 3 orang ARCAT dari 5 orang yang memburunya sendirian.</p>
<p style="text-align:justify;">Skenario kedua merupakan pertempuran di lapangan terbuka di belakang Mako. Tim dibagi dua dengan cara <em>gambreng</em> tanpa membedakan antara Arcat dan Cakra. Penulis, Wecky, Bang Rudy dan seorang agnggota Arcat berada di sebelah utara lapangan, sementara tim lawan berada di sebelah selatan. Ronde kedua ini dimenangkan oleh tim Selatan.</p>
<br />Posted in Skirmish Tagged: Airsoft Gun, ARCAT, Cakra-8, Donor Darah, MEnara HUtan UI, Menwa UI <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=48&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/10/20/donor-darah-cakra-8-arcat-dan-menwa-ui/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Tower</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/08/22/the-tower/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/08/22/the-tower/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 09:20:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft Gun]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan UI]]></category>
		<category><![CDATA[MEnara HUtan UI]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa]]></category>
		<category><![CDATA[militer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu setelah skirmish terakhir, Tim Arcat kembali mengajak kami untuk tanding ulang. Walaupun masih sedikit gempor akibat skirmish terakhir dengan mereka, penulis tetap dengan semangat datang ke Mako untuk meladeni tantangan mereka. Sampai di Mako penulis melihat Cifara (Dantim bulan itu) telah hadir, ia ditemani oleh adik kandungnya Endah. Sebelumnya penulis pernah berjumpa dengan Endah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=45&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Seminggu setelah skirmish terakhir, Tim Arcat kembali mengajak kami untuk tanding ulang.<span> </span>Walaupun masih sedikit <em>gempor</em> akibat skirmish terakhir dengan mereka, penulis tetap dengan semangat datang ke Mako untuk meladeni tantangan mereka. Sampai di Mako penulis melihat Cifara (Dantim bulan itu) telah hadir, ia ditemani oleh adik kandungnya <strong>Endah</strong>. Sebelumnya penulis pernah berjumpa dengan Endah di suatu kegiatan event organizer. Ia datang karena ingin ikut bermain Airsoft dengan kami. Melihat penampilan dan latar belakangnya, penulis <em>gak</em> yakin partisipasi nona Endah di dalam dunia Airsoft. Tapi yang <em>ngajakin</em> kakanya sendiri jadi <em>sutra</em> lah&#8230;.he3x.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-45"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Di Mako pada saat itu sedang terjadi kesibukan untuk mempersiapkan acara “Mako Homecomming Day“ pada hari minggu esok harinya. Kegiatan ini merupakan bagian dari temu alumni akbar Universitas Indonesia yang diselenggarakan dua hari bertrut-turut 26-27 Juli 2008. Para anggota lama dan baru (kecuali alumni yang <em>nontonin doank</em>) saling bahu membahu untuk mempercantik markasnya, menyambut kehadiran alumni yang sepakat hadir serempak esok harinya. Kesibukan para anggota Menwa UI ini membuat penulis kembali mengenang masa-masa indah menjadi anggota Menwa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Cifara meminta penulis untuk membeli air mineral di swalayan yang ada di dalam kampus. Penulis pergi membeli beberapa saat setelah Bang Rudi datang. <span> </span>Pulang dari toko swalayan penulis melihat Yuni (<strong>Phoenix</strong>) dan Rattle, nampaknya mereka hendak berhenti di dekat toko swalayan tersebut. Sampai di Mako, terlihat Cheetah sudah hadir entah kapan datangya. Beberapa saat kemudian Phantom, Phoenix dan Rattle serta seorang anggota Arcat merapat. Anggota Arcat yang seorang diri ini segera menelpon teman-temannya, karena belum seorang pun kecuali dirinya yang sudah hadir. Sedangkan tim Cakra sudah hampir lengkap dan sudah berganti pakaian. Sebuah mobil merapat ke mako, dan keluar dari mobil itu adalah seorang teman lama bernama <strong>Al</strong>, penulis mengenalnya di sebuah perusahaan event organizer (EO).<span> </span>Ia bersama seorang lain yang bernama <strong>Tio</strong>, yang ternya ta juga mantan karyawan di perusahaan EO tersebut. Tapi penulis tidak pernah bertemu dengannya, sebab status penulis di perusahan EO tersebut adalah part timer mulai masuk hingga keluar (walau tidak jelas kapan penulis pernah secara resmi menyatak diri keluar dari EO itu&#8230;he3x).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah teman-teman Arcat lengkap hadir dan kami semua telah berganti pakaian, permainan pertama pun dimulai. Agak lama menunggu mulainya permainan ini, penulis, Rattle, Phoenix dan Endah sempat bermain poker terlebih dahulu untuk mengisi kebosanan menunggu mulainya permainan. Ini kali pertama penulis bermain poker, sehingga selalu jadi bulan-bulanan pemain yang lain terlebih lagi Rattle, yang tampaknya sangat ahli bermain kartu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pada permainan pertama, tim Arcat akan masuk dahulu ke dalam hutan dan akan berusaha bergerak masuk ke Mako. Tim Menwa akan berusaha mencegat dan menghabisi mereka. Kemenangan Tim arcat ditentukan oleh beberapa banyak anggota mereka yang berhasil mencapai Mako. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Permainan pun dimulai, ARCAT masuk terlebih dahulu ke dalam hutan, Cakra menunggu di mako. Karena lupa janjian beberapa lama Cakra harus menunggu sebelum masuk, maka kami lama sekali berada di mako. Bukan mengatur strategi, tapi ngobrol ngalur ngidul membahas apa saja yang pantas dibahas. Akhirnya komando dari Dantim Cifara turun, kami semua berangkat masuk ke hutan. Cakra membagi tim menjadi dua sub-tim, sub-tim satu (sub-tim dimana penulis berada) masuk melalui jalur yang sama dengan Arcat, sedangkan sub tim kedua akan bergerak di sayap kanan kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Baru beberapa saat maju menyisir, Cifara yang berada di sub-tim 2 mengumunkan di HT bahwa ia telah melihat keberadaan lawan. Sub-tim penulis bergerak merapat ke arah Sub-tim dua, terdengar suara tembakan, dan kami melihat beberapa anggota Arcat melintas dengan cepat melewati lapangan bola di belakang Mako. Kami menembaki mereka, dan berusaha mengejar, tetapi usaha kami gagal. Semua anggota Arcat berhasil memasuki Mako. Mereka melambung jauh, masuk dari lapangan di sebelah selatan Mako dan masuk melalui lapangan di belakang Mako. Karena Cakra terlalu lama menunda masuk ke dalam hutan (akibat lama ngobrol nih), akhirnya kami kecolongan oleh Arcat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ronde kedua berlangsung di Menara Peninjau di hutan UI. Tempat ini dipilih dari hasil evaluasi permainan ronde pertama. Penulis dan beberapa rekan sempat bermain kartu, sebab lama menunggu para komandan dan staff dari masing2 tim merapatkan rencana berikutnya. Setelah memperoleh kesepakatan, kami semua berangkat menuju menara tersebut. Skenario nya kali ini adalah merebut menara, masing-masing tim mulai dari 100 langkah dari menara di arah berlawanan, kemudian akan maju menuju menara dan berusaha menduduki terlebih dahulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Tim Cakra mulai dari sisi utara menara, sedangkan ARCAT mulai dari sebelah selatan. Cakra membagi diri menjadi 3 subtim. Penulis bersama Jatayu menjadi sub-tim terkecil dari Cakra, yang bertugas melakukan gerakan-gerakan cepat dan mungkin melambung. <span> </span>Kami pun bergerak menuju sasaran. Dengan menggunakan HT, penulis terus berkordinasi dengan Cifara. Sub-tim penulis melintasi daerah-daerah yang penuh ilalang dan masih belum dilintasi orang. Kami berharap agar tidak terdeteksi oleh lawan, walalupun agak sulit melakukannya karena daerah itu dipenuhi daun-daun kering yang bersuara bila diinjak, walaupun dengan pelan menginjaknya. Sehingga perlidungan terbaik kami adalah ilalang-ilalang tinggi. Tapi hasil dari ronde ini cukup mengecewakan Cakra, sebab tanpa kontak senjata sama sekali Arcat dapat merebut menara tersebut. Ini karena kebiasaan Cakra yang bergerak melambung dan taktik gerilya yang menjadi ciri khas Cakra-8.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami beristirahat sejenak sambil membicarakan skenario berikutnya. Dua ronde sebelumnya sungguh mengecewakan, sebab peluru di senjata kami masih utuh. Banyak ide yang dilontarkan oleh peserta, dan akhirnya kami memilih skenario dimana satu tim bertugas mempertahankan menara sementara yang lain berusaha merebutnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Arcat bertugas menjadi tim yang berthan di menara, sedangkan Cakra menjadi tim penyerang. Cakra mulai dari sisi selatan menara, sektiar 100 langkah dari menara. Kami menggunakan formasi berbanjar atau paralel untuk menyerbu menara, Cifara, Jatayu, Al dan beberapa rekan Cakra menyerang dari sayap kanan. Sedangakan penulis, Phantom, bang Rudy, Phoenix, Tio menyerang dari sayap kiri. Penulis meminta Cifara<span> </span>dan teman-teman di sisi kanan untuk maju terlebih dahulu. Sebab daerah di depan penulis cukup lapang, tidak terlalu banyak pohon yang dapat menjadi perlindungan kami, ARCAT sudah terpantau dan mereka pun sudah memantau kami. Phantom berada di sisi paling kiri, setelahnya baru penulis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah hampir seluruh anggota tim Cakra yang berada di sisi kanan penulis maju, penulis pun maju ke depan, lalu disusul Phantom. Penulis memulai tembakan pertama ke arah seorang anggota Arcat yang berada di dekat menara. Tembakan ini pun di balas oleh Arcat, penulis langsung menjatuhkan diri ke tanah dengan punggung menghadap tanah. Teman-teman dari Cakra membalas serangan Arcat dan berikutnya kami terlibat tembak menembak yang cukup seru. Akhirnya salah satu anggta Arcat yang kurang lebih berada di sisi kana depan penulis tumbang, karena ia terkena kami dapat maju beberapa langkah lagi. Tetapi anggotaArcat yang berada di dekat menara belum tumbang, ia terus menghalangi pergerakan maju Cakra. Di tengah-tengah<span> </span>aksi tembak menembak terrsebut, seseorang berlari dari arah depan ke posisi kami. Kami langsung menembakinya, ia berteriak-teriak bahwa dia adalah teman dan kami salah menembak. Ternyata orang tersebut adalah Jatayu yang mundur dari depan. Selanjutanya kami berusaha menjatuhkan anggota Arcat yagn berada di menara, dan akhirnya usaha tersebut berhasil. Teman Arcat ini cukup tangguh, ia jatuh setelah dikeroyok sekitar empat orang Cakra. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami terus merangsak maju menuju menara sembari terus mengamati keadaan sekitar. Di sebelah hutan dimana tim Cakra sekarang berada. Terdapat hutan lain, hutan ini terletak di pingggir danau. Kedua hutan ini dipisahkan oleh sebuah jalan berbata. Penulis memiliki kecurigaan terhadap hutan di seberang hutan dimana posisi kami berada sekarang. Untuk menguji kecurigaan ini (makslum peneliti nih coy jadi suka mencoba sesuatu berdasarkan hipotesa), penulis melintasi jalan ber-bata yang memisahkan kedua hutan tersebut.<span> </span>Phantom yang berada dekat dengan penulis memberikan bantuan perlindungan. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ketika penulis melintasi jalan berbata tersebut, seseorang anggota Arcat yang bersembunyi di sebuah semak yang berada tepat di ujung jalan berbata. Semak ini berada dekat dengan menara juga. Penulis terus maju ke pinggir hutan yang menjadi tujuan, dan berlindung di balik pohon<span> </span>sambil mengamati hutan yang penulis curigai. Walaupun anggota Arcat yang berada di semak tersebut terus menembak, tetapi penulis tidak khawatir sebab dilindungi oleh pohon besar. Penulis terus mengamati hutan tersebut, mencoba menangkap pergerakan sekecil apapun. Karena tidak melihat apapun yang mencurigakan, penulis berbalik ke arah Phantom dan memberi kode tangan ke arah anggota Arcat yang sedang bersembunyi di semak-semak. Penulis berniat untuk masuk ke dalam hutan di pinggir danau dan melambung dari arah kiri menuju menara. Tetapi kemudian terdengar suara tembakan dan beberapa peluru bb mengenai bagian belakang tubuh penulis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ternyata anggota Arcat yang menjadi penunggu hutan di pinggir danau ini akhirnya muncul dan menghabisi penulis. Memang sebuah kesalahan bagi penulis untuk berbalik badan menghadap Phantom. Seharusnya penulis tetap terus maju merangsak <span> </span>masuk ke hutan pinggir danau tersebut. Ada kesempatan untuk menembak lawan lebih dahulu sebelum ditembak. Sekarang karena membalik badan malah ditembak dari belakang. Ya <em>sutra</em> lah&#8230;.penulis pun akhirnya keluar dari permainan dan menunggu di tepi danau. <span> </span>Satu per satu peserta keluar dari hutan dan akhirnya permainan selesai, karena dihentikan oleh peluit dari Dantim Cifara. Menara tidak terebut, sehingga pada Ronde ini Arcat kembali menang, walaupun anggota mereka hanya tersisa dua orang sedangkan Cakra tersisa tiga orang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ronde berikutnya kami bertukar posisi, kini giliran Arcat yang akan merebut menara. Sementara Cakra masih mengobrol serta berusaha mengatur strategi, Arcat rupanya sudah bergerak dengan cepat menuju menara. Ketika komando telah turun dari Dantim untuk posisi yang harus ditempati masing-masing anggota, penulis segera menuju<span> </span>ke sebuah tempat di sebelah timur<span> </span>tepat di kaki menara. Loaksinya cukup strategis karena di lindungi oleh semak belukar dan tumbuhan-tumbuhan liar yang tinggi. Baru saja sampai di tempat itu, penulis melihat bayangan orang bergerak cepat ke arah menara dari sisi selatan menara. Penulis memberitahu Dantim Cifara lewat HT, bayangan-bayangan orang tersebut semakin dekat hingga akhirnya penulis melepas tembakan untuk memperingati teman lain serta menahan laju lawan. Trigger serta Phoenix segera merapat ke lokasi penulis. Phoenix<span> </span>berada di belakang penulis, sedangkan Trigger berlindung di sebuah pohon salak di kiri depan penulis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis memberi tanda dengan tangan kepada Trigger bahwa lawan terlihat di arah depan penulis. Trigger pun memberi tanda bahwa ia melihat lawan di arah depannya. Trigger dan penulis tidak menghadap ke arah yang sama, Trigger menghadap ke arah barat sedangkan penulis menghadap ke arah selatan. Penulis berusaha menembak lawan di arah depan penulis, tapi tindakan ini dibalas dengan tembakan dari arah timur. Penulis langsung tiarap dengan punggung menghadap tanah, dan merayap punggung ke belakang menghindari peluru-peluru bb yang secara sporadis mengenai tiang-tiang kaki menara. Penulis berkata kapada Trigger untuk membalas tembakan, ia pun menembak ke arah timur dengan berondongan peluru bb.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami terus bertahan di kaki menara, hingga satu per satu peserta skirmish keluar dari permainan. Ketika Endah yang berada di rimbunan semak di kanan belakang Trigger terkena tembakan, penulis pindah posisi untuk menutup daerah belakang Trigger dan Phoenix. Seorang angogta Arcat akhirnya muncul di daerah yang seharusnya dijaga oleh Endah. Penulis menembaknya, ia berlindung ke arah rimbunan pohon, kemudian ia memebalas menembak. Penulis bersembunyi di balik sebuah pohon besar, setelah beberapa kali temabk menembak ia kahirnya kena juga. Bahkan penulis sempat memberondongnya, walaupun ia sudah berteriak hit, sebab penulis tidak yakin ia terkena.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis terus menjaga posisi itu, sekali-kali tembakan dari arah barat menara. Kadang-kadang Phoenix memancing mereka dengan tembakan shotgunya. Dari arah Timur Laut menara, penulis melihat semak-semak bergoyang. Curiga bahwa semak-semak itu digerakkan oleh lawan, penulis menembakinya. Sessat kemudian penulis terlibat temabk menembak dengan orang dibalik rimbunan semak dan tumbuhan itu. Sampai penulis sempat kehabisan peluru dan mengisi ulang dan kemudian terus melanjutkan tembak menembak. Akhirnya orang tersebut keluar juga, ternyata dia adalah Bang Rudy, wah kacau juga nih, ini kelelmahan penulis, tidak dapat mengidentifikasi lawan atau kawan. Pasalnya penulis tidak mengetahui posisi-posisi teman, sebab terlebih dahulu terlibat tembak menembak dengan Arcat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Mengetahui bahwa daerah sisi timur laut ditempati teman, penulis kembali ke posisi awal, memberitahu Trigger dan Phoenix tentang hal tersebut. <span> </span>Tidak lama kemudian, terdengan sura tembak menembak di hutan sebelah tenggara menara. Cifara keluar dari daerah itu dengan tangan terangkat menandakan ia telah terkena tembakan. Penulis memasang posisi di sebelah selatan menara, menunggu kedatangan orang yang telah menjatuhkan Cifara. Lama menunggu Bang Rudy kembali keluar dari persembunyiannya, penulis memberi tanda keberadaan lawan di sebelah tenggara menara. Dan kami terus menunggu orang tersebut maju ke menara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Trigger berkata pada penulis bahwa ia hendak maju ke arah barat. Penulis tetap bertahan di menara itu dengan Phoenix. Tiba-tiba terdengar suara tembakan dan daun-daun yang diinjak dari arah barat laut menara. Bang Rudy pun dari arah timur laut memberondong ke arah itu. Pandangan penulis dan Phoenix terhalang oleh rimbunan semak tinggi, sehingga tidak dapat melihat jelas. Phoenix memancing dengan tembakan shotgunya, penulis membidik ke arah itu bersiap memberondong dengan HK-416. Tapi tembakan Phoenix tidak dibalas, penulis menyimpulkan orang-orang yang bergerak dan menembak di sebelah barat laut menara adalah kawan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sesaat kemudian Phantom datang, hampir saja terjadi tembak menembak antara teman ketika penulis berbalik badan karena mendengar suara langkah orang dari arah belakang penulis. Untungnya Phantom mengidentifikasikan dirinya sebelum penulis sempat menarik picu senjata. Phantom bertanya tentang situasi, penulis menjelaskan semuanya, termasuk kemungkinan keberadaan lawan di hutan sebelah tenggara menara yang telah berhasil menjatuhkan Cifara.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis melihat bang Rudy keluara dari persembunyiaanya, penulis menyusulnya dan berkata bahwa ada potensi lawan di sebelah tenggara. Bagn Rudy berkata bahwa orang itu sudah pergi dari hutan tersebut dan yang sekarang sedang diburu oleh Rattle, Cheetah, dan dirinya. Rattle merapat ke arah menara, ternyata ia dan Cheetah adalah orang yang melepas tembakan dan bergerak di arah barat laut menara. Cheetah masih dalam posisi stelling di pohonnya menunggu lawan yang ia dan Rattle buru.<span> </span>Rattle menuju ke arah para anumerta skirmish yang sedang beristirahat di pinggir danau, bertanya sudah sisa berapa orang. Para anumerta perang menjawab bahwa sisa satu, jawaban ini diiringi gerutu bahwa orang mati tidak boleh ditanya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Mengetahui bahwa hanya sisa satu, kami semua bergerak ke hutan sebelah barat laut menara. Terlihat seseorang bergerak lincah di tengah-tengah rimbunan hutan, kami menembakinya tetapi orang tersebut terlalu cepat bergerak dan kemudian menghilang. Kami terus mengepung daerah itu, kadang-kadang memberi tembakan pancingan berharap agar orang itu keluar. Tapi tidak ada tanda-tanda sedikitpun, kami pun tidak ada yang berinisiatif maju sebab belum tahu pasti keberadaan lawan. Ia bisa saja sudah melintas ke sisi lain hutan, ketika kami bergerak maju memburunya malah menara dapat direbut karena tidak ada yang menjaga. Penulis memutuskan kembali ke menara menemui Phantom yang menjaga di sana, hingga bila teman-teman lain hendak memburu lawan itu, menara ada yang jaga. Belum sempat mengatur posisi, Jatayu datang dan membunyikan peluit tanda permainan telah berakhir. Kami semua keluar dari hutan menuju tepi danau dimana para anumerta berkumpul. Akhirnya terlihat juga “<em>The Last Man Standing from Arcatí</em>“, ia adalah Mr.Dicky. Yang kami semua juluki hari itu ”<em>The Rabbit of the day</em>“, karena dapat selamat dari kepungan tujuh orang Cakra&#8230;hebat Mr.Dicky&#8230;.<span> </span><span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Seterusnya kami menuju mako, di halaman belakang mako kami melakukan perang terbuka sampi 3 ronde. Pokonya di tiga sesi terakhir ini kami bertarung sampai BB terakhir, pokoknya habis-habisan. Setelah puas saling membantai di sesi perang terbuka kami pun bersipa pulang. Anak Cakra tidak langsung pulang sebab Endah menghilangkan magazin senjata AK 47 yang dipinjam dari Phantom, dan kami semua mambantu mencarinya. Setelah magazin ditemukan diketahui, dari tiga ronde perang terbuka yang kami mainkan ternyata Endah menembak dengan magazin terpasang (alias tembakannya ada pelurunya) hanya di ronde pertama. Sebab magazin itu ditemukan di dekat pohon pisang dimana Cakra berbaris menembaki Arcat di ronde pertama. Jadi selama ini nembaka apaann Endahhh&#8230;&#8230;..??????&#8230;.he..he&#8230;he</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cakra8.wordpress.com/45/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cakra8.wordpress.com/45/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=45&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/08/22/the-tower/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Flying ARCAT</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/08/03/the-flying-arcat/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/08/03/the-flying-arcat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Aug 2008 06:47:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Phantom memberitahu kami semua bahwa tim Arcat mengajak untuk kembali Skirmish. Karena pada tanggal 12 Juli banyak dari anggota Cakra yang mengikuti pembaretan, akhirnya diputuskan agar menggelar skirmish pada tanggal 19 Juli. Kali ini Cakra-8 juga turut mengundang beberapa tim luar (Detasemen-05 dan M4) serta freelancer (penggiat Airsoft yang tidak bergabung dengan klub). Beberapa dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=41&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Phantom memberitahu kami semua bahwa tim Arcat mengajak untuk kembali Skirmish. Karena pada tanggal 12 Juli banyak dari anggota Cakra yang mengikuti pembaretan, akhirnya diputuskan agar menggelar skirmish pada tanggal 19 Juli. Kali ini Cakra-8 juga turut mengundang beberapa tim luar (Detasemen-05 dan M4) serta <em>freelancer</em> (penggiat Airsoft yang tidak bergabung dengan klub). Beberapa dari mereka melakukan kontak melalui telepon dan email dengan penulis.</span><span id="more-41"></span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify">
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Pada hari H penulis datang sebelum jam 8, sebab Dantim Cifara memerintahkan sebelumnya untuk merapat di Mako Menwa UI pada gelombang 800.  Ketika penulis datang, tidak ada seorang anggota Cakra yang nampak.  Hanya anggota-anggota baru Menwa UI yang baru saja mengambil baret terlihat sedang berlatih. Ketika penulis sedang asik merakit kembali senjata yang penulis preteli  agar mudah dibawa, <strong>KM Edi</strong> <strong>Rahman</strong> (seorang alumni Menwa) keluar dari kamar mandi, ia memberitahu penulis bahwa anggota Cakra yang lain sedang memasang wahana <em>flying fox</em>. Beberapa saat kemudian Cifara dan Cheetah muncul dari hutan sebelah utara Mako. Ia memberitahu bahwa nanti akan ada skenario yang menggunakan <em>flying fox</em>. Wah rupanya skirmish kali ini akan sangat menarik, karena ada acara “terbang-terbangan“ (<em>flying</em>). Walaupun sejujurnya penulis berharap agar tidak menjadi peserta yang akan melakukan “meluncur duduk“ (istilah yang dipakai Menwa UI untuk kegiatan <em>flying fox</em>)&#8230;.he..he..he</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Cifara meminta bantuan penulis untuk membeli dua box aqua gelas ke Alfamart di kampus Psikologi UI. Tapi karena motor penulis bermasalah di jalan, Cifara harus menyusul penulis dan kami berdua membeli aqua gelas di Alfamart bersama. Ketika penulis dan Cifara merapat ke Mako, tampak beberapa anggota Arcat sudah datang. Wecky juga sudah merapat, dan tampak seorang teman lama, ia adalah <strong>Tri</strong>. Teman lama yang dahulu bersama penulis menjadi anak buahnya Cifara di sebuah perusahaan Event Organizer. Dengan kehadiran Tri, Cheetah, Cifara dan Penulis, maka lengkaplah sudah tim Adventure D********T (maaf nama perusahaan tersebut disensor, sebab tidak ada perjanjian iklan antara Cakra dan D********T). Sesaaat kemudian hadir pula <strong>Bubuy</strong>, teman satu ini mengenal Cakra-8 dari internet (yah tidak lain ya dari blog ini lah). Ia adalah mantan anggota MI-6, karena rumahnya berada di Ciganjur (yang dekat Depok) ia tertarik untuk ikut berlatih bersama Cakra-8. Phantom juga mengajak dua orang teman, bang Gito dan <strong>bang Rudi </strong>(alumni Menwa Unpad). </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Akhirnya kami pun bersiap melakukan Skirmish, kali ini tim Arcat memperlengkapi diri dengan dua buah HT. Cakra sendiri pun sudah memesan HT ke Den-05, tapi Sanu (Dantim Den-05) belum juga muncul. Sehingga Cakra sepertinya akan bertempur dengan cara lama tanpa dukungan telekomunikasi elektronik. Seperti biasa bila bertemu Arcat, maka pemanasan dimulai dengan skenario <em>ambus-ambush-an</em>, tetapi bila biasanya cakra masuk duluan kali ini Arcat yang masuk terlebih dahulu.  Karena jumlah Arcat lebih sedikit, maka Cakra dengan sangat rela melepaskan jatayu masuk ke Arcat. Untuk skenario kali ini anggota tim Cakra adalah Cifara, Cheetah, Phantom, Bang Gito, Bang Rudi, Jatayu, Wecky, Tri, Bubuy dan penulis sendiri. Kami menunggu agak lama sebelum masuk menyusul Arcat, karena Wecky harus mencari baju pengganti baju seragamnya yang hilang di Mako.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Setelah Wecky menemukan pakaian pengganti untuk bertempur, akhirnya kami pun masuk ke dalam hutan. Awalnya kami bermaksud untuk menyusun pasukan secara paralel untuk meyisir hutan. Tetapi formasi pasukan berubah, tim kami terbagi menjadi dua sub tim dan ini pun tanpa perencanaan. Sub-tim pertama terdiri dari Cifara, Cheetah, Tri, Bubuy dan penulis, kami bergerak dengan panduan Cifara, sementara sub-tim yang lain bergerak entah kemana. Sub-tim penulis bergerak terus tanpa menemukan lawan, sampai akhirnya kami sampai di dekat danau Hollywood UI (istilah yang dipakai oleh sivitas UI untuk menyebut danau dimana terpampang nama UI beserta logonya dengan ukuran besar).  Kami beristirahat terlebih dahulu sembari menentukan arah pergerakan selanjutnya.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Kami memutuskan untuk bergerak di sepanjang pinggir danau menuju arah utara, dengan memperhatikan daerah hutan di sisi kiri barisan kami.  Dengan demikian pusat perhatian kami hanya tertuju ke arah sisi kiri. Di tengah perjalanan penulis sempat melihat seorang peserta yang memakai seragam Cakra (loreng jerman) keluar dari dalam hutan, ia sempat berbincang dengan Tri yang berada di posisi paling belakang formasi patroli kami.  Penulis terus berjalan ke depan dan menemui Cheetah sedang dalam posisi siaga dengan AK-47 milik Cifara. Penulis bertanya padanya dimana Cifara dan mengapa senjata Cifara ada di tangannya. Cheetah menjawab bahwa Cifara sedang buang air kecil, dan ia bertugas “<em>on guard</em>“. Penulis  berhenti di dekat Cheetah, sembari menunggu Tri untuk bertanya tentang identitas orang yang diajaknya bicara. Bubuy melintasi penulis dan bergerak masuk ke dalam hutan, kemudian mengambil posisi jaga tidak terlalu jauh dari tempat kami berkumpul.  Sesaat kemudian Tri datang dan penulis berbincang dengannya, ternyata orang yang diajaknya bicara itu adalah Phantom yang sudah tertembak. Cifara keluar dari tempatnya buang hajat dan ikut dalam berbincang, kami heran kenapa Phantom ada di belakang kami, bila benar lawan beada di daerah itu kenapa kami tidak bertemu dengan mereka . </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Tiba-tiba Cheetah melepas tembakan ke arah kanannya, langsung kami mengambil posisi masing-masing. Penulis bergerak ke arah Bubuy, sementara Cifara dan Tri bergerak ke arah kanan. Penulis dan Bubuy berada di sebelah kiri Cifara dan rekan-rekan lainnya, kami bergerak ke depan, penulis sempat melihat Tri menyisir daerah semak di sebelah kanan. Bubuy menemukan sebuah pohon besar dimana ia berlindung dan mengamati ke depan, penulis menyusulnya dan mengambil posisi jongkok di sampingnya. Penulis berkata kepada Bubuy agar menahan laju terlebih dahulu menunggu barisan Cifara di sebelah kanan kami maju. Tiba-tiba kami diserbu oleh peluru bb, Bubuy langsung mengambil posisi tiarap, sedangkan penulis langsung terlentang ke tanah untuk menghindari bb yang melayang di atas badan penulis. Penulis berkata kepada Bubuy apakah ia dapat merayap mundur ke belakang, dan ia mengiyakan. Penulis merangkak duluan dengan perlindungan tembakan Bubuy, yang mempunyai posisi lebih baik dari penulis. Penulis merayap dengan menggunakan punggung, hingga akhirnya tembakan lawan berhenti dan penulis melakukan guling kebelakang (maklum anak Aikido kalo namanya guling-gulingan gak usah ditanya deh) dan berubah posis menjadi tiarap. Penulis gantina melindungi Bubuy dengan tembakan, sementara ia mundur kebelakang. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" lang="de-DE" align="justify">Jarak kami dengan lawan akhirnya cukup jauh, suara tembakan berhenti. Bubuy mengajak untuk menyerbu ke depan, selanjutnya kami bergerak lamban dengan bantuan perlindungan semak dan tumbuhan hutan untuk memburu penembak kami. Kami tidak menemukan si penembak tersebut serta kehilangan kontak dengan Cifara dan  rekan-rekan lainnya. Walaupun tinggal berdua, kami terus melakukan perburuan dengan hati-hati, akhirnya terdengar sura peluit yang menandakan ronde pertama selesai. Penulis mengajak Bubuy untuk keluar dari hutan menuju Mako Menwa UI, ditengah perjalanan kami bertemu dengan Bang Gito.</p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Setiba di Mako, penulis melihat Trigger sudah datang. Ia ada urusan di pagi harinya sehingga datang telat. Para peserta memutuskan untuk beristirahat makan siang dan sholat. Karena Tukang pangsit langganan kami yang biasa mangkal di depan Mako Menwa UI tidak datang hari itu, akhirnya kami patungan untuk memesan makanan di asrama UI. Cheetah dan Tri pergi memesan makanan ke asrama, dan karena jumlah peserta di atas 15 orang dan pemesanan makanan dilakukan menjelang jam 12, maka kami harus menunggu lama sebelum makanan datang. Di tengah penungguan tersebut Sanu akhirnya datang membawa HT yang dibeli Cakra dari Den-05. Ia datang beserta  seorang rekannya dari Den-05. Karena datang telat dan tidak terdaftar dalam daftar pemesan makanan, Sanu terpaksa pergi sebentar untuk mencari makanan. Seorang rekan lama “akhirnya datang juga“ ia adalah Ponco yang sekarang ingin dijuluki <strong>Rattle</strong>. Ia datang telat karena ada acara pernikahan yang harus dihadirinya. (lu sendiri kapan <em>merit</em>-nya Co’&#8230;he&#8230;he&#8230;he). </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Setelah menyelesaikan Ishoma, kami berkumpul lagi bersiap untuk bermain kembali. Cifara telah menyusun sebuah skenario yang melibatkan penggunaan Flying Fox. Peserta dibagi menjadi dua tim, satu tim penyerang dan satu tim bertahan. Skenario ini mengambil tempat di daerah hutan UI di sekitar  menara yang berada di dalam hutan tersebut. Salah satu tim akan bertugas  mempertahankan menara itu, sedangkan tim lain akan berusaha merebutnya. Untuk mencapai menara tersebut tim penyerang mempunyai dua pilihan, pertama melewati jembatan di tengah danau UI, kedua menggunakn Flying Fox yang dipasang melintasi danau UI. Suit dilakukan untuk menentukan siapa yang bertahan dan siapa yang menyerang. Hasil suit  menentukan Arcat sebagai tim penyerang , kebetulan sekali sebab Cakra yang didominasi anak Menwa kayaknya sudah bosan meluncur dengan Flying Fox&#8230;he&#8230;.he&#8230;he.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Karena menggunakan wahana Flying Fox, waktu bermain menjadi terulur sebab Cifara, Cheetah dibantu Smiley-Abe harus mempersiapkan wahana tersebut. Cakra (Phantom, Cifara, Cheetah, Jatayu, Wecky, Rattle,  Trigger, Skipper) beserta legiun asing (dua orang Den-05, Bubuy, Bang Rudi)  berkumpul di sekitar menara sampai jam 14.30, waktu yang ditentukan sebagai tanda mulainya permainan. Sanu adalah timer kami, ia mencocokan jam-nya dengan salah satu angota Arcat  dan menegoisasikan jam pertempuran.  Bang Gito yang ikut bertempur di ronde pertama tidak ikut, sebab ia harus pulang untuk urusan keluarga.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Ketika jam pertempuran mulai kami langsung bersiap. Tim bertahan membagi diri menjadi 3 lapis sub-tim. Penulis ,Wecky, Rattle dan Trigger berada di lapis kedua. Di lapis pertama adalah Sanu, Bubuy, Bang Gito dan Jatayu. Sedang di lapis terakhir, sub-tim yang paling dekat dengan tower adalah Phantom, Anggota Den-05, Cifara dan Cheetah. Penulis bersama Trigger mengambil posisi sayap kiri, sedangkan Wecky dan Rattle mengambil sayap kanan. Ladasan pendaratan Arcat adalah daerah  hutan sebelah utara menara, sehingga mudah bagi kami untuk menyusun lapisan barisan sebab telah tahu darimana lawan akan datang. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Penulis beserta Trigger menunggu lama sebelum akhirnya terdengar suara-suara tembakan dari lapis pertama. Pada awalnya Trigger menyarankan untuk melakukan gerakan melambung menyambut serangan lawan, tetapi penulis tidak sependapat.  Daerah tersebut dipenuhi daun-daun kering tidak seperti daerah dimana kami biasa bertempur. Sehingga agak sulit melakukan gerakan-gerakan senyap, daun-daun kering pasti memberitahukan lawan dimana posisi kami. Setelah lama menunggu kami merasa bosan juga, suara-suara tembakan AEG pun semakin dekat. Akhirnya kami bergerak maju dengan memanfaatkan semak-semak sebagai pelindung.  Karena daun-daun kering yang bersuara ketika dilintasi oleh manusia, maka kami bergerak satu-satu. Ketika salah satu dari kami bergerak rekan yang lain melindungi, paling tidak bisa memberikan bantuan tembakan atau sebagai pengalih perhatian. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Akhirnya kami tiba di sebuah tempat dimana di depan kami adalah rimbunan semak tinggi. Trigger memberitahu penulis dengan bahasa isyarat bahwa ia melihat lawan. Sesaat kemudian terjadi tembak menembak antara Trigger dengan lawan, penulis yang berada di sebelah kiri Trigger memberi bantuan tembakan. Walaupun tidak dapat melihat posisi lawan sebab terdapat rimbunan semak tinggi yang menghalangi. Penulis hanya memperkirakan posisi lawan dari suara tembakan dan arah peluru yang menuju ke arah Trigger.  Setelah menembak penulis bergerak dari posisi awal, tujuannnya adalah menghindari serangan balasan lawan (kalau di Tinju dan Karate ini namanya hit and run). Benar setelah tembakan penulis selesai, lawan membalas, tetapi karena ia tidak melihat dimana posisi penulis dan penulis sendiri telah bergeser, maka tembakannya meleset jauh dari penulis.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Trigger memberi isyarat akan berpindah dari posisinya ke arah depan, tetapi penulis memberi isyarat agar menahan posisi. Penulis yakin bahwa lawan telah menunggu kami dan jumlah mereka bisa lebih banyak . Sehinggga gerakan maju ke depan dapat berakibat fatal. Lawan tidak akan gegabah menyerang ke arah kami, sebab mereka tidak tahu pasti jumlah serta posisi kami. Dalam situasi ini kesabaran dan kecerdikan adalah penting sekali (kayak main catur aja). Dalam filosfi Budo (seni keprajuritan Jepang) siapa yang menarik pedang terlebih dahulu biasanya dia yang kalah. Filosofi ini berlaku dalam situasi yang kami alami, siapa yang gegabah maju ke depan akan dihabisi terlebih dahulu.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Situasi tersebut berlangsung lama, kami hanay saling memancing dengan tembakan-tembakan tidak jelas arahnya, saling menunggu. Sampai akhirnya datang Wecky, seperti biasa ia datang dengan berlari-lari. Untung yang melihat pertama adalah Trigger, bila tidak bisa saja ia jadi korban salah tembak. Trigger pun sempat mengarahkan senjatanya ke arah Wecky, untungnya ia mengenali teman seangkatannya di jurusan Geografi UI itu. Wecky datang berbincang dengan Trigger, kemudian ia berbincang dengan penulis. Penulis memberitahu bahwa di balik semak yang berada dihadapan penulis, kemungkinan terdapat satu tim kecil Arcat yang telah menunggu kami. Wecky berkata bahwa ia akan  bergerak melambung dari sisi kiri. Penulis pun memberikan tembakan-tembakan ke arah posisi lawan untuk mengalihkan perhatian mereka. Di tengah usahnya melambung dari sisi kiri, Wecky berpapasan dengan penduduk sekitar, ia bahkan sempat berbincang dan permisi dengan penduduk tersebut&#8230;..<em>yah elah</em> Weck, ketahuan dunk&#8230;. Dan benar sesaat kemudian terdenganr tembakan dan suara hit, tidak jelas siapa yang terkena tembakan tetapi yang jelas Wecky tidak kembali ke posisi kami. Kemudian beberapa saat kemudian, dua orang anggota Arcat berjalan dihadapan kami, mereka mengaku telah hit dan hendak mencari jalan ke <em>base camp</em>. Tapi mereka mundar-mandir di dekat kami bukannya jalan terus. Curiga bahwa mereka adalah mata-mata bagi teman-teman mereka yang belum tertembak, penulis mengajak Trigger untuk bergeser ke belakang dengan gerakan saling melindungi. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Kami tiba di sebuah pohon pendek (penulis tidak paham soal tumbuh-tumbuhan, tetapi sepertinya itu pohon salak) yang baik untuk tempat persembunyian. Kami mengambil posisi bertahan beberapa saat, menunggu lawan yang diharapkan maju mengejar kami, tetapi mereka tidak kunjung datang. Penulis mendekati Trigger untuk mengatur strategi berikutnya. Akhirnya kami memutuskan untuk bergerak ke arah danau. Dari tempat kami berada untuk menuju danau adalah daerah yang terbuka, tidak ada semak hanya perpohonan tinggi. Penulis berkata kepada Trigger bahwa akan bergerak terlebih dahulu dan memintanya untuk melindungi. Penulis bergerak merayap ke arah danau, semua teknik meryap yang pernah diajarkan selama pendidikan dasar Menwa UI penulis keluarkan. Mulai dari meryap harimau sampaimerayap Peta. Hanya satu teknik merayap yang tidak penulis lakukan, yaitu merayap Banteng (anak-anak Menwa UI pasti tahu kenapa teknik ini tidak dilakukan&#8230;he3x). Akhirnya penulis sampai di daerah yang cukup banyak semaknya dan baik untuk berlindung. Penulis mengambil posisi menembak duduk dan memberi kode kepada Trigger untuk maju. Tidak seperti penulis yang merayap, maka Trigger berlari ke pohon perlindungannya. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Jarak antara Penulis dan Trigger tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh. Penulis melihat kelbatan seseorang di depan penulis, ia jelas memakai seragam Arcat. Tetapi jaraknya belum masuk jangkauan tembakan penulis. Lalu terdengar tembakan dari arah sebaelah kiri Trigger. Kami mengambil posisi siaga, anggota Arcat yang  telah terpantau tersebut teus bergerak ke depan sehingga sampai dalam jarak tembak. Penulis menembakinya, tetapi penulis ditembaki oleh rekannya yang alain. Keadaan satu-satu, penulis berhasil menembak lawan tetapi juga kena tembakan.  Lalu kami berdua para peserta skirmish yang telah tertembak meninggalkan daerah konflik. Ditengah perjalanan penulis melihat Phantom sedanga berada di balik semak siap menunggu mangsa. Penulis berkumpul dengan para korban perang menunggu pertempuran selesai. Pertandingan berahasil dimenangkan Cakra, karena Phantom berhasil mendapatkan buruannya (jadi <em>The Last Man Standing dunk</em>&#8230;.he3x) </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Setelah pertandingan selesai  tamu-tamu Cakra-8 meninggalkan Mako Menwa UI karena hari sudah sore. Tetapi anak-anak Cakra-8 memutuskan untuk kembali bermain, terutama Rattle dan Trigger yang baru bermain satu ronde. Dipa juga baru saja datang setelah ronde kedua selesai. Ia memutuskan untuk ikut bermain, karena ketinggalan dua ronde sebelumnya. Seorang teman lama penulis bernama <strong>Nirwan</strong> juga ikut berpartisipasi dalam ronde terakhir terseut. Ia adalah rekan satu angkatan di jurusan Fisika UI. Yang mengajaknya adalah Trigger, karena mereka berdua bertetangga. Tidak semua anggota Cakra ikut di ronde ketiga, Phantom, Bang Rudi serta Wecky tidak ikut. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Skenario pada ronde ini adalah merebut bendera yang diletakkan diantara dua tim. Peserta dibagi menjadi dua tim, satu adalah tim Doreng Jerman/Lectan (seragam Cakra-8) sedang yang lain adalah tim campuran. Tim Lectan terdiri dari Cifara, Cheetah, Rattle dan penulis sendiri, sedangkan tim kedua adalah Jatayu, Trigger, Dipa, Tri dan Nirwan. Jumlah tim kedua memang lebih banyak, sebab mereka lebih lemah berdasarkan pengalaman dan kekompakan Tim.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Cifara bertanya pada penulis strategi apa yang harus digunakan, penulis memberi saran agar menyususn apasukan secara paralel/sap. Kami pun menyusun pasukan secara bersap, penulis berada di sisi paling kiri, kemudian Cifara, lalu Cheetah dan paling kanan adalah Rattle. Permainan dimulai dan kami pun bergerak, penulis segera berlari ke depan dengan memperhitungkan bahwa lawan masih menyesuaikan diri dengan medan. Penulis sampai di sebuah pohon yang baik untuk berllindung, jaraknya dekat sekali dengan pohon dimana bendera yang berbentuk layangan dipasang. Penulis tidak gegabah langsung mengambil bendera, sebab bisa saja jadi target penembakan lawan yang tidak tahu diaman posisinya. Penulis melihat anggota lawan maju, dari penampilannya ia adalah Nirwa. Penulis menembakinya dan dari arah peluru dan jarak seharusnya ia sudah kena, tapi entah kenapa Nirwan tidak teriak hit malah terus lari-larian ke arah sampin kanan penulis. Mungkin karena masih baru dan belum merasakan irama permainan Airsoft serta memahami peraturannya, Nirwan teus berlari-lari. Penulis biarkan buruan lewat, sebab ia bergerak ke arah kanan, disana banyak rekan setim penulis yang akan menyambutnya (itulah gunanya kerjasama tim). </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Setelah Nirwan menghilang dari pandangan, penulis menunggu buruan lain, tapi tidak lama berselang penulis ditembaki. Untungnya dibalik pohon, peluru-peluru BB mengenai pohon di depan penulis, tapi kemudian arah tembakan berubah. Penulis langsug merayap punggung ke arah belakang, sebab tidak tahu di mana si penembak, bila terlalu lama di posisi yang sama bisa-bisa jadi sasaran empuk. Beberapa meter dari tempat semula penulis berhenti, tetap masih dalam posisi telentang, sebab posisi ini mudah memeperhatikan arah depan dan dapat dengan mudah bergerak ke belakang dengan merayap punggung. Penulis lalu memutuskan mengangkat kepala untuk melihat daerah di samping kiri penulis, derah itu dipenuhi pohon tetapi lebih rendah dibanding tempat penulis sekarang berdiam. Baru saja kepala muncul, peluru bb kembali melintas, untung agak ke atas dan beberapa mengenai pohon-pohon di sebelah kiri penulis. Kembali lagi dengan cekatan (seperti moto Menwa UI “Cenggur Cekatan“) penulis bergerak dengan merayap punggung ke arah belakang. Penulis lama dalam keadaan terlentang, lalu kembali mengangakat kepala, dan kali ini tidak ada bb yang melayang. </span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Penulis segera merubah posisi menjadi berlutut, posisi ini jauh lebih meudah untuk memantau keadaan daripada posisi tiarap. Penulis yakin bahwa si penembak maju melambung melewati daerah kiri, derah itu banyak perlindungannya. Dari posisi berlutut, penulis mengamati daeha samping kiri depan, samping kiri dan samping kiri belakang secara bergantian. Beberapa saat melakuakn pengamatan, penulis memutuskan untuk pindah posisi ke belakang, mencari tempat yang lebih aman untuk memantau. Baru saja menengok ke belakang, seseorang dengan seragam hitam-hitam, yang dipastikan adalah Jatayu muncul dari arah sebelah kiri belakang, ia rupanya melambung jauh hendak menusuk kami dari belakang. Tanpa pikir panjang penulis langsung memberondong  penyusup ini  dan ia berteriak “hit“. Secara strategi memang langakah Jatayu tepat, hampir kami semua habis karena di berondongnya dari belakang. Tetapi karena nasib berkata berbeda ya gitu deh (he..he..he). Ada kekurangan dalam gerakan Jatayu, yaitu dia tidak membawa teman. Bilaada dua orang yang menyusup dari belakang, maka setelah Jatayu tertembak, orang kedua akan dengan mudah mengahabisi penulis.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Selanjutnya penulis bergerak mendekati Cifara yang sedang terlentang dibalik pohon, tembak menembak dengan seseorang. Cifara memberitahu bahwa pas di arah jam dua belasnya ada lawan. Penulis juga melihat Cheetah yang berada dibalik rimbunan semak, Cheetah memberitahukan ada lawan di depannya. Penulis mendekati Cheetah sembari melihat ke arah yang sama dengannya. Tampak seseorang sedang mengarahkan senjatanya ke arah Cheetah, ia merubah arah tembakannya tersebut ke arah penulis. Penulis langsung jatuh dengan punggung di belakang, peluru-peluru bb melintas di atas badan penulis, untuk menghindari  jadi sasaran penulis meryapa punggung ke belakang sampai di tempat aman dari arah tembakan lawan. Penulis merubah posisi dari terlentang menjadi tiarap, tidak lama kemudian seorang anggota lawan keluar dari persembunyiannya, ia adalah Nirwan, tidak jelas siapa yang menembaknya tapi akhirnya ia kena juga. Penulis merayap ke arah depan, sebab Cheetah masih menembak. Akhirnya penulis melihat orang yang tembak menembak dengan Cheetah, penulis turut membantu Cheetah menembaki orang tersebut. Karena dikeroyok, orang itu pun menyerah dengan berteriak hit dan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia adalah Tri yang hampir saja menembak penulis ketika bergerak mendekati Cheetah.</span></p>
<p style="margin-bottom:0;" align="justify"><span lang="de-DE">Setelah banyak dari pihak lawan berguguran, kami bergerak maju, tetap dalam posisi bersap di masing-masing pohon perlindungan. Jarak kami sangat dekat dengan bendera, tetapi kami tidak langsung menyerang karena belum tahu pasti dimana posisi lawan. Cifara memberi isyarat kepada penulis bahwa ia akan melambung menyerang dari belakang. Setelah Cifara bergerak meninggalkan posnya, penulis bergerak menuju posisi awal Cifara0. Cheetah berada agak jauh di sebelah kanan penulis menjaga sayap masing-masing. Sesaat kemudian terdengar suara tembakan dari depan, lalau terlihat seseorang keluar dari rimbunan pohon dengan mengangkat senjatanya. Terlihat dari pakaiannya dari yang digunakan, ia adalah Trigger, rupanya Cifara mulai beraksi. Kemudian Cheetah mulai menembak, penulis yang tidak melihat apapun mendekat ke arah Cheetah. Setelah dekat ia memberitahu bahwa lawan ada tepat di jam 12-nya. Penulis mencoba mengintip, tapi malah diberondong peluru bb oleh orang itu, untung ada pohon-pohon yang melindungi kami.. Cheetah membalasanya, penulis tidak ketinggalan, kami terus menekan orang itu dan berharap agar Cifara segera dapat meyelesaikan permainan. Beberapa lama kemudian terdengar suara teriakan dari dalam hutan, Cifara meneriakkan “<em>fresse</em>“ kepada orang itu, permainan pun selesai. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cakra8.wordpress.com/41/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cakra8.wordpress.com/41/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=41&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/08/03/the-flying-arcat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Last Man Standing</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/07/09/last-man-standing/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/07/09/last-man-standing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jul 2008 03:37:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft Gun]]></category>
		<category><![CDATA[Cakra]]></category>
		<category><![CDATA[Cakra-8]]></category>
		<category><![CDATA[Hutan UI]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa UI]]></category>
		<category><![CDATA[militer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Seminggu setelah latihan internal, kami kembali berlatih. Alasannya karena tanggal 12 Juli yang seharusnyna menjadi jadwal latihan reguler cakra berbenturan dengan jadwal pembaretan Menwa UI. Mayoritas dedengkot Cakra 8 akan menghadiri acara latihan berganda tersebut, dan tentunya kan “berperan aktif“, bahkan mungkin hiper aktif..he..he..he. Pada bulan Juli ini yang menjadi Dantim adalah Cifara, dan ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=38&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Seminggu setelah latihan internal, kami kembali berlatih. Alasannya karena tanggal 12 Juli yang seharusnyna menjadi jadwal latihan reguler cakra berbenturan dengan jadwal pembaretan Menwa UI.<span> </span>Mayoritas dedengkot Cakra 8 akan menghadiri acara latihan berganda tersebut, dan tentunya kan “berperan aktif“, bahkan mungkin hiper aktif..he..he..he. Pada bulan Juli ini yang menjadi Dantim adalah Cifara, dan ia mengajukan sebuah skenario yang cukup sadis, yaitu “<em>The Last man Standing</em>“. Dalam skenario ini kami bergerak secara individu, masing-masing orang adalah serigala bagi yang lainnya (kayak kata-kata seorang tokoh terkenal&#8230;.). Masing-masing orang akan berusaha memburu teman lainnya, sampai hanya ada satu orang yang tersisa&#8230;.sadisss.</span><span id="more-38"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Jadwal latihan adalah jam 8.00, tetapi ketika penulis datang ke Mako (sebelum jam 8.00 lho), yang terlihat hanyalah Dantimnya sedang latihan mandiri. Dari keterangan <em>Kumendan</em> Cifara, Phantom akan datang telat sebab akan periksa kesehatan ke rumah sakit. Jatayu belum beri keterangan apapun, padahal Cifara sengaja menjadwalkan latihan pagi sekali sebab Jatayu akan melamar seorang wanita pada sore harinya (akhirnya&#8230;&#8230;berani juga). Wecky tidak dapat datang karena harus menemani istrinya, Ponco juga tidak bisa hadir sebab ada kegiatan muda-mudi katolik (ternyata Ponco alim juga&#8230;gak nyangka). Trigger datang setelah menelpon penulis memastikan ada<span> </span>kegiatan latihan hari itu, sehari sebelumnya Wecky telah memberi tahunya. Cifara tidak tahu nomor telpon Trigger, sedangkan penulis kan bukan lagi Dantim, jadi tanggung jawab menghubungi anggota bukan lagi di pundak penulis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Lewat jam 8.00 baru tiga orang yang berkumpul, Cifara, Skipper dan Trigger. Malam sebelumnya penulis dihubungi oleh Komandan Menwa UI saat ini diminta untuk melatih taktik beregu (TIKRU) dan pendidikan perseorangana (DIKPEROR) kepada calon anggota Menwa UI. Penulis menyanggupi permintaan tersebut, malu dong kalo sering latihan Airsoft gak bisa melatih taktik beregu, apalagi mantan Menwa. Penulis minta ijin terlebih dahulu pada Cifara, selaku Dantim Cakra-8 bulan Juli, sekaligus meminjam sepatunya (gak jelas nih minta ijin buat meninggalkan latihan airsoft apa <em>minjem</em> sepatu). Penulis meninggalkan Cifara dan Trigger yang sedang latihan mandiri. Trigger hari itu berganti senjata, ia mendapat hibah dari pamannya sebuah AEG replika dari M-16. Cukup kuat hentakannya, tapi terbuat dari plastik dan bentuknya panjang sekali, maklum replika dari M-16.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis kemudian memberikan materi TIKRU dan DIKPEROR kepada teman-teman calon anggota Menwa UI, yang pada saat itu sedang dalam persiapan pengambilan baret ungu. Ketika sedang berada di lapangan bersama teman-teman calon anggota, sekitar jam 10 lebih, penulis melihat Phantom tiba. Setelah pelatihan selesai, penulis bergabung bersama rekan-rekan Cakra-8 lainnnya. Disitu juga ada <strong>Supri</strong>, ia adalah teman dari banyak anak Menwa (termasuk penulis) yang sekarang merupakan atasan dari Jatayu. Ia mencari Jatayu untuk urusan kantor. Sekitar 10 menit setelah penulis bergabung dengan rekan-rekan Cakra lainnya Jatayu datang, ia bersama dengan adiknya yang paling bungsu bernama <strong>Teddy</strong>. Kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, setelah makan siang Phantom meminta penulis untuk memabntunya memperbaiki HK416-nya yang rusak. Karena kerusakan yang tidak terlalu parah, senjata<span> </span>Phantom<span> </span>akhirnya kembali baik. Jatayu yang senjatanya rusak meminta penulis membantunya juga. Tapi setelah kutak-kutik beberapa saat, kerusakan senjata milik Jatayu tidak diketahui juga. Akhirnya karena hari sudah siang dan kami sudah gatal ingin berlatih, Jatayu memakai senjata Wecky yang pada saat itu tidak hadir. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami memepersiapkan diri, mengganti pakaian, memeriksa senjata dan sebagainya. Tiba-tiba seseorang datang ke Mako, ia adalah <strong>Bang Gito</strong>, mantan Menwa yagn seangkatan dengan Phantom. Ia diajak oleh Phantom untuk ikut bermain airsoft, dan karena naluri prajurit masih melekat di dalam jiwa Bang Gito tentu saja ia ikut. Kami harus menunggu Bang Gito mempersiapkan diri, berganti pakaian dan tentunya mendapatkan pinjaman senjata dari Cakra-8. Setelah Bang Gito siap, kami membuat lingkaran dan mendapatkan brifing dari Cifara selaku Dantim.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah itu kami menuju hutan, di dalam kami mebuat lingkaran, masing-masing menghadap luar. Sesuai petunjuk Cifara, kami berjalan 100 langkah ke arah depan masing-masing s, setelah itu mulai memburu lawan. Disamping kanan penulis adalah Jatayu sedang di samping kiri adalah Bang Gito. Setelah terdengar aba-aba dari Cifara penulis berjalan ke depan, Bang Gito dan penulis masih dapat saling melihat. Sehingga penulis mengambil inisiatif untuk berusaha menghindar dari pandangannya. Penulis masuk ke daerah penuh semak, karena lupa sudah beberapa langkah dari titik temu, penulis diam saja dan menunggu suara tembakan pertama. Tidak berapa lama kemudian, terdengar tembakan, suaranya seperti G36. Lalu terdengar lagi suara tembakan menjawab tembakan tersebut. Penulis mencari posisi yang baik, tidak langsung menuju tempat di mana terdengar suara tembakan. Bila langsung menuju tempat itu, sama saja bunuh diri, sebab penulis bisa ditembaki oleh kedua pihak yang saling buang tembakan itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis terus bergerak secara senyap sembari mengamati daerah sekitar. Akhirnya penulis menemukan tempat yang baik untuk beristirahat, tempat itu ada pohon pendek yang menaungi daerah dibawahnya, di dekat pohon tersebut terdapat semak-semak yagn baik untuk perlindungan dari pengamatan lawan. Selain itu juga terdapat pohon-pohon yang berbaris rapat seperti layaknya dinding. Hanya ada satu celah terbuka, penulis beristirahat di tempat itu sembari mengawasi celah yang terbuka itu. Suara tembakan berhenti, hening beberapa saat, lalu terdengar suara dari sisi kanan depan penulis. Langsung saja penulis awas, untungnya di sebelah kiri depan penulis, terdapat barisan pohon pendek rapat yang menyerupai dinding melindungi penulis dari pantauan orang tersebut. Berdasarkan suara langkah kaki orang tersebut, penulis mengetahui ia berjalan sepanjang barisan pohon rapat itu. Penulis bersiap untuk melakukan kontak, dan akhirnya orang tersebut terlihat juga, ia adalah Cifara. Yang mengherankan, Cifara terus menoleh ke arah kanannya, seakan-akan terfokus dengan sesuatu. Entah ia sedang memburu atau diburu oleh rekan lainnya. Tetapi untung ia terus melihat ke arah kanan, sebab bila melihat ke kiri penulis terpantau olehnya. Tanpa pikir panjang langsung penulis menembaki Cifara, mumpung tidak terpantau olehnya, Cifara kaget dan berteriak Hit&#8230;<em>one down more to go</em>&#8230;he..he..he</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah membantai Cifara, penulis meninggalkan tempat tersebut, suara tembakan yang penulis keluarkan mungkin telah terpantau oleh lawan lainnya. Oleh karena itu langkah yang paling tepat adalah kembali bergerak. Penulis bergerak ke arah selatan, daerah yang bersemak, bergerak sesenyap mungkin dan terus waspada. Penulis sadar akan bergerak dimana kemungkinan Jatayu berda, oleh karena itu kesenyapan dan kewaspadaan semakin ditingkatkan. Setelah bergerak beberapa lama, penulis menemukan tempat yang baik untuk beristirahat. Tempat itu emurpakan cekungan tanah yang dikelilingi semak dan pohon-pohon pendek. Terdapat dua celah yang terbuka, penulis beritirahat sembari mengamati kedua celah tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sembari beristirahat, penulis terus berfikir hendak bergerak ke arah mana. Dan baru saja penulis hendak bergerak, terdengar suara tumbuhan diinjak di belakang penulis. Penulis kembali ke tempat persembunyian, suara itu sangat gaduh, dari balik semak-semak rimbun penulis melihat bagian tubuh orang yang bergerak itu. Penulis menembak tiga kali, dan terdengar teriakan Hit, orang itu muncul dari balik semak-semak, ia adalah Jatayu, akhirnya kena juga&#8230;.he&#8230;.he&#8230;.he</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis kembali bergerak, sekarang ke arah danau, karena yakin bahwa daerah itu aman setelah Jatayu tumbang. Di san kembali penulis beristirahat di tempat yang relatif aman. Kemudian kemabli melanjutkan pergerakan, penulis bergerak ke arah utara. Sekali-kali penulis beristirahat, lalu bergerak lagi. Lama sekali penulis tidak bertemu lawan, hanya pernah terlihat oleh beberapa orang tunawisma yang sering nongkrong di tepi danau. Mereka tertegun melihat penulis yang berpakaian militer, bertopeng dan bersenjata. Penulis memberi tanda dengan tangan agar mereka menjauh. Setelah diberi tanda merka langsung lari, mungkin dipikirnya ada penyergapan narkoba di hutan UI&#8230;.he&#8230;he&#8230;he.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Lama sekali penulis bergerak di hutan itu, mengendap-ngendap di rimbunan semak. Bereaksi terhadap suara sekecil apapun, daun jatuh, kadal yang melintas, pergerakan burung-burung. Memantau keadaan sekitar dengan mata awas, tengok kanan, kiri, belakang, memandang ke tanah memperhatikan jejak-jejak alam. Kadang tiarap, kadang jongkok, kadang jalan jongkok, kadang rebahan, menghindari daerah terbuka dan sinar matahari. Ditemani laba-laba, kadal, semut dan suara angin yang mengilir. Sampai akhirnya terdengar suara teriakan, tadinya penulis kira suara itu adalah suara para tunawisma danau, ternyata setelah penulis mendekat ke arah sumber suara, pemilik suara itu adalah Cifara. Cifara hendak menarik personil-personil yang masih berada di dalam hutan, permainan dinyatakan selesai. Personil yang masih berada di hutan adalah Trigger dan penulis. Phantom dan Bang Gito walaupun tidak tertembak atau menembak siapapun, mereka memutuskan untuk kembali ke Mako. Sedang Trigger sempat kembali ke mako untuk buang air kecil serta minum (gile sempet-sempetnya), tetapi masuk lagi ke hutan untuk melanjutkan permainan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ketika penulis sampai di Mako, semua rekan telah duduk berkumpul kecuali Trigger. Jatayu menggantikan Cifara masuk ke dalam hutan mencari Trigger, dan selang beberapa saat kemudian Trigger dan Jatayu muncul dari hutan. Kami beristirahat semabri membahas skenario yang telah kami mainkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah beristirahat kami melanjutkan permainan dengan skenario berbeda. Kali ini kami membagi diri menjadi dua tim, pembagian dilakukan dengan cara <em>gambreng</em>. Teddy yang kali ini diikutkan sebagai anak bawang, tidak ikut <em>gambreng</em>, nanti ia diikutkan ke tim yang dianggap kuat. Dari hasil <em>gambreng</em>, Phantom mendapatkan para pemain baru, Bang Gito dan Trigger, sedangkan penulis, Cifara dan Jatayu menjadi tim lawan mereka. Karena dianggap tim penulis lebih kuat dari sisi persenjataan dan pengalaman tempur, Teddy yang hanya memakai shotgun masuk dalam tim kami. Skenarionya adalah ambush seperti biasa, tim terlemah masuk dahulu ke dalam hutan kemudian tim yang kuat akan memburu mereka. Phantom diberi bekal sebuah peluit untuk memberi tanda kepada tim pemburu bila mereka sudah siap. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah tim Phantom masuk ke dalam hutan, tim penulis menunggu di tepi hutan. Cifara mendiskusikan strategi apa yang akan kami pakai kali ini, apakah serangan langsung atau melambung. Penulis menyarankan untuk menyerang langsung ke arah suara peluit. Bukan karena ada taktik khusus tertentu, tetapi karena hari sudah sore, dcapek <em>bo’</em> kalau harus melambung (sudah banyak melambung pada ronde pertama tadi). Dan jatayu dan Cifara setuju, mungkin karena sudah kelelahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah terdengar suara peluit kami bergegas masuk dengan formasi berbanjar. Di awal penulis berada di depan, Cifara di tengah, Jatayu di belakang bersama Teddy. Setelah beberapa saat setelah masuk agak dalam formasi berubah, Cifara di depan, Jatayu dan Teddy di tengah, penulis dibelakang. Akhirnya terjadi kontak, kami ditembaki oleh seseorang, jarak antara kami rengang sekali, mungkin dua meter satu sama lain. Sehingga walaupun Cifara berada di depan, tetapi yang terkena terlebih dahulu adalah Jatayu. yang menembaknya adalah Phantom, tetapi Phantom tidak menyadari keberadaan Teddy. Berhasil membabat Jatayu, Phantom dibabat Teddy. Penulis bergerak ke depan mendekati Teddy, bermaksud melindungi sebab senjatanya cukup lemah. Sesaat kemudian Cifara mundur kebelakang merapat ke arah kami. Pada saat kami sedang diskusi tentang rencana berikutnya, terdengar suara tembakan, dari suaranya dapat diketahui suara itu berasal dari G36. Kami tidak terpancing untuk langsung menyerang, Cifara, penulis dan Teddy melakukan formasi bersap, bergerak dengan awas ke arah barat hutan. Cifar memberi tanda bahwa ia akan maju karena melihat lawan. Penulis mengarahkan bidikan ke depan untuk melindungi pergerakan Cifara. Cifara menembaki seseorang, yang penulis sendiri tidak melihatnya, orang itu membalas, tetapi kemudian terdengar suara tembakan dari sisi kiri Cifara. Ia terkena tembakan orang kedua di sisi kirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kehilangan Cifara, tim kami hanya tersisa dua orang. Penulis diam di posisi sembari mengamati daerah di depan penulis berusaha men-spot keberadaan lawan.<span> </span>Penulis kemudian bergerak ke arah Teddy, posisinya lebih tinggi dari posisi penulis. Penulis bertanya kepada Teddy, apakah ia melihat orang yang ditembaki oleh Cifara, tetapi Teddy menjawab tidak. Penulis kembali ke posisi awal, semabri terus mengamati. Akhirnya penulis melihat lengan kiri Bang Gito yang memamakai jaket motor berwarna coklat, Ia berlindung di balik pohon pisang yang terkena sianr matahari dan jaraknya cukup jauh dari posisi penulis. Cocok juga Bang Gito berlindung di balik pohon pisang yang tekena sinar matahari itu, sebab jaket coklatnya tersamarkan, hampir tidak terpantau penulis. Penulis menembak duluan, bang Gito membalas kemudia bergerak. Jarak tembakan G36 yang dipakai Bang Gito tidak sebanding dengan HK416 milik penulis. Sehingga penulis tidak terlalu khawatir akan terkena peluru BB. Penulis terus mengikuti pergerakan bang Gito dan terus menembaknya, bila biasanya penulis tidak mementingkan akurasi tembakan. Kali ini penulis seperti menembak lesan (target kertas untuk latihan tembak), membidik dengan cermat sasaran tembak. Dan akhirnya sasaran terkena, Bang Gito teriak Hit. Sebenarnya bila senjata G36 jarak tembaknya sama dengan<span> </span>HK416 maka penulis akan tertembak terlebih dahulu, sebab posisi penulis lebih terbuka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah Bang Gito tertembak, penulis mengalihkan perhatian ke Trigger yang berada di daerah sisi kiri penulis. Penulis bergerak ke arah sisi kiri, mengamati dengan cermat daerah itu. Teddy penulis biarkan berada tetap di posisinya, rencana penulis adalah memancing Trigger ke arah posisi Teddy agar dapat dihabisi olehnya. Dalam pergerakan itu, penulis melihat sepatu Trigger yang sedang berguling-guling dan tiarap. Penulismembidikkan senjata ke arahnya, kemudian menembak. Trigger berguling terus, penulis terus memgikuti pergerakan tersebut walau terhalang rimbunan semak. Penulis terus menembak, dan akhirnya Trigger terlihat helmnya. Penulis terus menembak helmnya samapai ia berteriak Hit. Sebenarnya Trigger sudah berteriak Hit, tapi karena ia berada dalam posisi merayap teriakan itu tidak terdengar. Trigger mengangkat senjatanya, baru penulis mengerti kalau ia sudah tertembak. Ronde kedua dimenangkan oleh tim penulis dengan menyisakan dua orang yaitu Teddy dan penulis sendiri..“<em>The Last men standing</em>“&#8230;.he..he..he.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami semua berkumpul di Mako Menwa UI saling menceritakan pengalaman masing-masing dan mengakrabkan diri. Jatayu kembali meminta bantuan penulis untuk memeriksa senjatanya yang rusak. Setelah utak atik beberapa saat ternyata kerusakan dapat dikenali, tidak terlalu parah, tidak perlu sampai mengganti komponen. Kabel yang menghubungkan motor dan batere ada yang lepas. <span> </span>Setelah memakai selotip untuk melekatkan kabel itu ke pin motor, senjata Jatayu sempat bekerja. Tetapi kemudian tidak bekerja lagi, rupanya selotip tidak cukup kuat untuk menahan kabel tersebut pada pinnya. Karena hari sudah sore dan tidak cukup bahan, penulis memberi petunjuk kepada Jatayu apa yang harus dilakukan untuk mengkaitkan kabel itu ke pin motor. Esok harinya ketika penulis bertemu Jatayu, ia berkata bahwa senjatanya sudah baik kembali. Ya syukurlah sudah kembali baik, sebab terdengar rencana dari Phantom bahwa ARCAT akan kembali datang untuk bertanding dengan<span> </span>kami,menghadapi mereka <em>we need all the fire power</em>&#8230;&#8230;.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cakra8.wordpress.com/38/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cakra8.wordpress.com/38/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/38/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/38/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/38/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=38&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/07/09/last-man-standing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Unexpected Guest</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/07/02/unexpected-guest/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/07/02/unexpected-guest/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jul 2008 03:43:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft Gun]]></category>
		<category><![CDATA[Cakra]]></category>
		<category><![CDATA[Cakra-8]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa UI]]></category>
		<category><![CDATA[militer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Sesuai jadwal latihan reguler kami, penulis (yang pada saat itu menjabat Dantim) merencanakan latihan pada minggu 29 Juni 2008, lalu kemudian menyebarkan sms ke teman-teman lain memberitahukan rencana tersebut. Setelah sms disebar Wecky memberitahukan kepada penulis mengenai rencana kegiatan pelatihan satpam dan temu alumni Menwa UI yang direncanakan akan dilaksanakan pada sabtu 28 Juni dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=31&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sesuai jadwal latihan reguler kami, penulis (yang pada saat itu menjabat Dantim) merencanakan latihan pada minggu 29 Juni 2008, lalu kemudian menyebarkan sms ke teman-teman lain memberitahukan rencana tersebut. Setelah sms disebar Wecky memberitahukan kepada penulis mengenai rencana kegiatan pelatihan satpam dan temu alumni Menwa UI yang direncanakan akan dilaksanakan pada sabtu 28 Juni dan minggu bertepatan dengan rencana latihan reguler kami. <span> </span>Ia<span> </span>kebetulan diserahi tanggung jawab dari alumni-alumni menwa untuk menjadi penanggung jawab acara temu alumni. Mengetahui hal tersebut, penulis segera mengirimkan sms ke semua teman-teman Cakra 8 mengenai pembatalan kegiatan latihan reguler dikarenakan bertabrakan dengan dua kegiatan tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Tetapi pada hari senin 23 Juni 2008, Jatayu menghubungi penulis dan mengusulkan agar tetap melaksanakan rencana kegiatan latihan reguler,</span><span id="more-31"></span><span lang="DE"> tentunya bila anggota-anggota lain bersedia. Setelah berkonsulasi dengan Phantom (sebagai sesepuh Cakra 8), Cifara (yang pada saat itu menjabat sebagai Wadantim) dan tentunya Jatayu (anggota yang mengusulkan agar latihan tetap dilaksanakan), penulis memutuskan untuk tetap menggelar latihan di hari <span> </span>minggu sesuai rencana awal. <span> </span>Pada hari kamis dan jumat penulis menghubungi seluruh anggota untuk memberitahukan kegiatan latihan reguler kami. Di hari sabtunya penulis juga menghubungi Mas Nurdin (<strong>Trigger</strong>) untuk memberi informasi kegiatan latihan, ia diberitahu paling akhir karena anggota paling baru di klub kami, sebab sampai hari sabtu pun penulis masih ragu apakah tetap sesuai rencana atau membatalkannya kembali.<span> </span>Penulis juga memberitahu seorang rekan penulis yang bernapa <strong>Dipa</strong>. Ia adalah teman penulis di dojo Aikido UI, setelah lama tidak bertemu, kami dipetemukan lagi melalui Yahoo Messenger (YM). Dan dari perbincangan di YM, penulis mengetahui bahwa Dipa ternyata juga penggemar kegiatan Airsoft. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Hari minggunya penulis datang jam 11 siang ke Mako Menwa UI, disana kegiatan alumni sedang berlangsung. Ketika memasuki gerbang Mako, penulis kaget melihat seorang teman lama. Ia adalah <strong>Sanu</strong>, tokoh satu inilah yang pertama kali memperkenalkan penulis pada olahraga Airsoft Gun. Pada malam sabtu sebelumnya, Dipa memberitahu bahwa Sanu dan timnya (<strong>Detasemen 05</strong>) akan bermain juga di UI. Tetapi penulis tidak mengetahui bahwa mereka akan bermain di hutan yang sering Cakra-8 tempati untuk berlatih. Setelah beranjang sana dengan beberapa alumni Menwa (termasuk Phantom dan Wecky), penulis berkoordinasi dengan Sanu. Dari hasil koordinasi tersebut kami sepakat untuk menggelar latihan bersama, tentunya setelah anggota Cakra-8 berkumpul dan siap. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dipa hadir sebelum jam 12 siang, sebab penulis mengingatkan agar ia datang awal. Tetapi anggota Cakra-8 lainnya belum bermunculan, seperti Jatayu, Cifara dan Trigger. Jatayu yang sudah berjanji akan datang sekitar jam 11 siang ternyata belum menunjukkan batang hidungnya (untung bukan batang kemaluannya), Cifara memang sudah memberitahukan sebelumnya bahwa akan datang telat sebab tugas kantor di Ancol, Trigger pun telah menginformasikan akan hadir telat, sedangkan Ponco memang ragu akan datang atau tidak karena ada acara lain. Angota Cakra-8 yang sudah ada hanya Phantom, Wecky dan Skipper. <span> </span>Phantom sibuk bercengkrama dengan rekan sesama alumni Menwa, sedangkan Wecky adalah PJ acara tersebut. Jadi penulis tidak mungkin memaksa mereka bertempur saat itu, sehingga tim Sanu ber main terlebih dahulu. Selain klub Detasemen-05 (tim airsoft fakultas hukum UI), Sanu juga mengajak klub luar bernama M-4. Penulis akhirnya harus sabar menunggu rekan-rekan Cakra-8 lainnya sembari menemani Dipa yang kasihan telah hadir awal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sekitar jam setengah dua, Cifara muncul ia bersama Janu yang telah memilih nama panggilan <strong>Cheetah</strong>. Melihat mereka berdua penulis gembira, akhirnya datang juga (kayak judul acara televisi saja). Sanu kembali menghubungi penulis untuk memastikan apakah jadi latihan bersama atau tidak, dan penulis karena telah melihat Cifara dan Cheetah menegaskan kembali bahwa Cakra akan latihan bareng dengan mereka. Penulis dan Dipa langsung berganti pakaian sembari menunggu Cifara yang menyantap makan siang. Bersamaan dengan itu, Phantom keluar dari ruang aula Menwa dimana temu alumni diselenggarakan. Penulis mengkonfirmasi kesiapan Phantom untuk bertempu dan beliau menjawab siap dan berkata bahwa temu alumni sebentar lagi akan berakhir sehingga Wecky juga bisa ikut. Beberapa saat kemudian Trigger sampai di Mako, dan disusul oleh <strong>Sundoko</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sundoko adalah seorang rekan Wecky dari fakultas Geografi UI, ia rupannya penggiat olahraga ini. Ia membawa senjata lengkap degnan peralatan keselamatan airsoft. Senjata yang dibawa tidak tanggung-tanggung, jenis <strong>GBB</strong> (<em>Gas Blow Back</em>), yang merupakan senjata paling mutakhir dalam dunia Airsoft Gun.<span> </span>Kami para airsoft gunner berbincang-bincang sesaat sebelum mulai bertempur, menunggu bubarnya alumni menwa, sebab banyak anak-anak yang dibawa oleh para alumni. Dalam perbincangan tersebut Wecky menyatakan diri tidak bisa ikut bertempur sebab hari sudah terlalu siang dan ia harus menghadiri undangan hajatan ponakannya. Beberapa saat kemudian Jatayu datang bersama pacarnya, penulis sempat melampiaskan kekesalan penulis kepadanya. Sebab ia yang mengusulkan agar latihan reguler tetap dilaksanakan, tetapi ia datang paling telat. Dasssaaarrrrr&#8230;&#8230;&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami bergegas untuk memakai perlengkapan, dan Jatayu anggota yang paling telat saat itu, berteriak-teriak agar kami bergerak cepat (gak sadar kali yee). Wecky yang tadinya berencana pulang, juga ikut berganti pakaian. Penulis bertanya kenapa ia akhirnya memutuskan untuk ikut, ia menjawab ia akhirnya mau ikut bermain karena melihat Phantom berganti pakaian (ternyata Bang Naz menjadi inspirasi Wecky untuk ikut)&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Akhirnya kami siap bertempur, sebelum memulai pertempuran kami melakukan brifing terlebih dahulu untuk meyepakati aturan main serta menjelaskan skenario yang akan dijalankan. Sebelumnya sanu dan penulis telah meninjau medan pertempuran yang akan dipakai, menentukan lokasi bendera, dan menyepakati skenario yang akan dimainkan. Skenario yang dimainkan adalah merebut bendera lawan dengan dua benteng, skenario ini adalah usulan dari Sanu.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pertempuran pun dimulai, untuk ronde pertama Jatayu tidak ikut bermain sebab senjatanya mengalami kerusakan. Tim kami dibagi menjadi tiga tim, dua tim penyerang dan satu tim bertugas untuk menjaga benteng. <span> </span>Tim pertama terdiri dari Penulis, Dipa dan Cheetah, tim kedua terdiri dari Wecky, Trigger dan Sundoko, sedangkan tim ketiga yang bertugas bertahan adalah Phantom dan Cifara (sniper habis coy&#8230;) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Tim penulis menyerang dari sayap kiri, kami melakukan formasi linear atau yang juga dikenal sebagai “<em>Ranger Potition</em>“. <span> </span>Penulis berada di depan sebagai “<em>Point Men</em>“, karena dua rekan satu tim penulis memiliki senjata yang lebih rendah daya tembaknya. Dipa memakai shotgun, sedangkan Janu memakai G-36. Sebagai Point Men, tentunya penulis sangat beresiko sekali terkena tembakan duluan. Dan dalam operasi kali ini resiko itu menjadi kenyataan. Penulis terkena tembakan duluan, untungnya dua rekan penulis yang berada dibelakang tidak panik sehingga mereka tetap dapat mundur kebelakang secara diam-diam. Yang menembak penulis adalah Sanu, ia juga bertugas sebagai point men dalam regunya. Tetapi bedanya ia melihat penulis terlebih dahulu sebelum penulis melihatnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pertandingan akhirnya dimenangkan oleh tim Cakra karena bendera Den-05+M4 berhasil direbut oleh Trigger. Rupanya seluruh pasukan Den-05+M4 maju tanpa ada yang bertahan di benteng mereka. Rupanya tim Wecky, Sundoko dan Trigger memecah kekuatan mereka, masing-masing bergerak sendiri-sendiri dan melambung. Dan kebetulan Trigger yang berhasil merebut bendera. Ketika Sanu kembali ke Mako, penulis bertanya siapa yang menembaknya, ia menjawab bahwa ia ditembak oleh Dipa. Hebat juga Dipa hanya menggunakan shotgun bisa menembak lawan yang menggunakan AEG. Sebenarnya Dipa tidak sendirian, ia ditemani oleh Cheetah yang menggunakan G36 ketika menyergap tim Sanu. Tetapi mungkin faktor nasib saja sehingga Sanu bisa tertembak shotgun dan bukan G36&#8230;.he3x</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami sepakat untuk bertanding lagi, skenario yang sama tetapi tukar posisi. Ronde kedua tidak diikuti Wecky karena harus pulang untuk mengikuti hajatan ponakannya. Senjatanya diserahkan ke Jatayu yang sedang sial karena HK416-nya rusak. Sayang juga senjata Jatayu itu rusak, padahal tidak murah waktu dibeli. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Di ronde kedua ini, tim Cakra kembali dibagi menjadi tiga sub-tim. Satu tim bertahan menjaga bendera, atau kalau memakai istilah Menwa, Tim KIMA (Kompi Markas). Dan dua tim patroli atau penyerang. Tim KIMA terdiri dari Trigger dan Sundoko, sedangkan tim patroli satu terdiri dari Phantom, Skipper, dan Dipa. Tim patroli dua terdiri dari Jatayu, Cifara dan Cheetah. Tim penulis dipimpin oleh Phantom yang menjadi point men. Kami bergerak cepat ke arah depan. Kami tidak tahu dimana letak bendera, walaupun hutan tersebut sudah sering dipakai latihan oleh Cakra, tetapi tetap sulit untuk dipetakan, apalagi dua minggu sebelumnya terdapat penebangan pohon di dalam hutan. Awalnya Dipa berada di paling belakang, tetapi setelah masuk agak dalam dan penulis perkirakan sudah mendekat ke arah lawan, penulis memeberi kode padanya untuk berda di posisi tengah. Karena senjatanya (shotgun) adalah yang terlemah daya tembaknya, maka berada di posisi tengah akan membuat tim kami kuat. Dua senjata AEG menjag depan dan belakang ketika patroli bergerak, dengan shotgun di tenga<span> </span>sebagai cadangan bantuan tembakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Akhirnya kami mendengar suara tembakan, rupanya tim Cifara berada di sayap kiri kami, melakukan kontak dengan lawan. Kami terus maju kedepan, karena posisi lawan sudah terdeteksi, penulis mendekati Phantom untuk memeberi dukungan tembakan, posisi Dipa sekarang dibelakang kami. Penulis melihat beberapa anggota tim lawan berdiri karena sudah terkena tembakan tim Cifara. Phantom maju dengan cepat ke depan, ia ditembaki seseorang tetapi peluru BB orang tersebut tidak mengenainya. Penulis menembaki orang tersebut yang terdeteksi dari semak-semak yang bergoyang. Penembak itu terkena ia segera berdiri setelah teriak hit. Penulis maju merayap ke depan, karena menyangka daerha sudah aman, Phantom berada di depan kiri penulis dan sudah tiga orang tim lawan yang terkena tembakan. Tetapi rupanya daerah itu belum aman, baru merayap sebentar penulis dihujani BB dari sisi kanan. Langsung saja penulis teriak hit, tangan kanan, serta badan bagian kanan terasa sakit terkena BB, untung saja penulis memakai helm. Penulis berdiri dan menuju Mako, teman-teman M4 yang sudah tertembak mengikuti penulis, mereka tidak tahu jalan pulang jadi perlu dipandu. Sebelum meninggalkan lokasi konflik penulis sempat melihat Dipa yang bergerak merayap ke arah Phantom.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ronde itu berakhir tanpa ada yang menang, pasalnya Den-05 membawa bendera yang mereka pertahankan sebelum ronde selesai. Mereka menyangka tim Cakra sudah habis, tetapi mereka lupa kalau masih ada beberapa orang bertahan. Tetapi kembali lagi terjadi kasus “ jeruk makan jeruk“, atau teman tembak teman, kali ini pelakunnya Phantom dan korbannya adalah Cifara. Yah itulah salah satu tantangan pertempuran hutan, jangan tembak teman sendiri&#8230;he3x.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah pertempuran selesai seperti biasa kami saling bercerita tentang pengalaman tempur. Dan banyak cerita lucu, menarik dan menegangkan (saking lucu dan menegangkannya pantas dijadikan tulisan di blog&#8230;.he3x). Den-05 dan M4 pamit pulang karena hari sudah sore, dan mereka meninggalkan oleh-oleh makan siang. Awalnya mereka berencana bertempur dengan tim lain dan diperkirakan berjumlah sekitar 40 orang, tetapi sayangnya yang datang hanya sedikit. Ya sudah makan siangnya didonasikan ke Mako dan para Airsofter yang ada saat itu. Kembali para hantu markas mendapat makan malam gratis, jadi ingat masa-masa<span> </span>masih menjadi hantu markas nih&#8230;..kalau ada kegiatan sering dapat jatah makan malam gratis&#8230;&#8230;he3x</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cakra8.wordpress.com/31/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cakra8.wordpress.com/31/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=31&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/07/02/unexpected-guest/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Phantom VS Phantom</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/06/19/phantom-vs-phantom/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/06/19/phantom-vs-phantom/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jun 2008 05:25:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft]]></category>
		<category><![CDATA[ghost]]></category>
		<category><![CDATA[hantu]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa]]></category>
		<category><![CDATA[Military]]></category>
		<category><![CDATA[phantom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Seperti biasa kami menggelar latihan internal Cakra-8 pada Minggu 15 Juni 2008, kali ini kami telah membuat peraturan tertulis dan formulir keanggotaan. Ini dimaksudkan agar terdapat keteraturan di dalam organisasi kami. Dan sesuai kesepakatan mengenai pergiliran pemegan jabatan Dantim dan Wadantim maka pada bulan Juni 2008 penulis kena getahnya jadi Dantim, sedang Wadantim dijabat oleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=30&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Seperti biasa kami menggelar latihan internal Cakra-8 pada Minggu 15 Juni 2008, kali ini kami telah membuat peraturan tertulis dan formulir keanggotaan. Ini dimaksudkan agar terdapat keteraturan di dalam organisasi kami. Dan sesuai kesepakatan mengenai pergiliran pemegan jabatan Dantim dan Wadantim maka pada bulan Juni 2008 penulis kena getahnya jadi Dantim, sedang Wadantim dijabat oleh Cifara. Selain Dantim dan Wadantim terdapat dua jabatan lain, yaitu Provost dan Medis. Phantom rupanya bersemangat sekali menjadi Provost, beliau rela menginap di Mako supaya menjadi orang yang paling pagi datang . Sebab banyak anggota Cakra-8 pada malam hari sebelumnya telah datang menginap, kecuali penulis, dan mereka sepakat yang datang paling pagi adalah yang menjadi Provost.</span><span id="more-30"></span><span lang="DE"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Walaupun hujan tidak reda dari hari sabtu, penulis berhasil juga datang sebelum jam 9.00, maklum jadi Dantim malulah kalau datang telat. Dan untung saja tidak telat, kalau tidak Provost Phantom yang sudah menunggu di beranda mako siap menjatuhkan hukuman&#8230;he..he. Wecky datang tidak lama setelah penulis tiba, dan ia pun lolos dari hukuman. Sementara teman-teman lainnya datang telat dengan alasan masing-masing. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Hujan tidak kunjung reda dan teman-teman lain belum menampakkan batang hidungnya, sehingga kami bertiga hanya dapat menunggu. Sambil menunggu kami berganti pakaian dan menyiapkan peralatan, serta SABU (sarapan bubur). Setelah hujan agak reda seorang teman Wecky bernama <strong>Nurdin</strong> datang, ia berhasil dibujuk Wecky untuk ikut bermain. Teman baru ini rupanya cukup mampu untuk memebeli peralatan sendiri, ia datang sudah lengkap dengan senjata dan google serta peluru yang dibelinya dari Mas Yudi GAT. Setelah hujan reda sekitar pukul 11.30, kami yang sudah gatal ingin bermain akhirnya masuk hutan. Kami terbagi menjadi dua tim, masing-masing tim beranggotakana dua orang. Tim pertama (Alfa) terdiri dari Phantom dan penulis, sedang tim kedua (Beta) beranggotakan Wecky dan Nurdin. Tim Beta masuk dahulu untuk bertahan, sedangkan tim Alfa menyusul memburu mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Tim penulis bergerak melambung jauh sekali berputar-putar di dalam hutan mencari tim Beta. Bhkan kami sempat salah tembak, kerena ada seorang penebang kayu yang sedang melakukan penebangan di hutan tersebut. Penebang itu hampir saja menjadi sasaran peluru BB kami. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri pagar, dalam patroli kami di spinggir pagar, kami melakukan kontak dengan tim Beta. Sebenarnya arah pergerakan kami menguntungkan sebab kami sebenarnya bergerak di belakang mereka. Tetapi terdapat kesalahan dan miskonukiasi di tim penulis, kami menyusuri pagar dengan formasi bersap, Phantom di sisi kanan (yang paling dekat pagar) sedang penulis di sebelah kiri. Formasi kami pecah karena terhalang rimbuan semak tinggi serta pohon-pohon yang baru ditebangi. Penulis tidak bisa melihat Phantom, tetapi mengira ia tlah maju dahulu ke depan, sehingga penulis maju tetapi mengamati daerah sisi kiri penulis, sebab menyangkan sisi kanan telah aman. Ternyata Phantom belum maju ke depan, dan penulis berpapasan dengan Wecky yang sedang camper strike terhalang rimbunan semak, jarak antar kami sangat dekat, sekitar 3 meter. Karena jarak itu tidak aman untuk menembakkan peluru BB, penulis lari ke belakang. Wecky menembaki penulis, sebenarnya ia tidak menembaki langsung. Ia menembaki rimbunan semak, tetapi karena jarak yang telalu dekat dan peluru BB tersebut dapat menembus semak-semak, hantaman peluru BB sangat sakit mengenai tubuh penulis dan penulis teriak hit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sebenarnya kami membuat peraturan bila terjadi situasi dimana antar pemain bertemu dalam jarak dekat (dibawah 10 meter) yatiu dengan teriak “freese“, tetapi ini belum menjadi kebiasaan di antara kami. Pada permainan kali ini peraturan memungkinkan penulis untuk <em>resurect</em> (hidup kembali) bila dipegan teman satu tim. Tapi penulis lupa dengan aturan tersebut dan melangkah pulang menuju Mako. Tidak lam permainan pun selesai dengan kemenangan tim Beta. Di Mako Cifara dan Janu telah datang, sementara Jatayu tiba agak lama setelah Cifara. Provost Phantom memeberikan hukuman kepada mereka yang telat dengan hukuman push-up&#8230;&#8230;emang enak&#8230;he..he</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah makan siang, kami memulai ronde kedua. Ronde ini tidak diikuti oleh Nurdin sebab ia harus pulang untuk sebuah urusan. Jatayu membawa Heheng, anggota Cakra-8 yang sudah lama tidak ikut bermain. Ronde ini merupakan pertarungan antara teman-teman yang telat dan yang datang duluan. Kami yang datang lebih dahulu merasa kesal kepada mereka yang telat&#8230;he..he..he.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Skenario yang dimainkan adalah tim alfa (penulis, Phantom dan Wecky) berusaha merebut bendera dari tim Beta (Cifara, Jatayu, Heheng dan Janu). Karena di hutan yang dimana kami bermain pertama kali ada kegiatan penebangan hutan, kami memutuskan bermain di hutan sebelah utara Mako. Hutan yang memang cocok untuk memainkan skenario ini, sudah tiga kali kami memainkan skenario yang sama di hutan tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Bendera di letakkan di posisi yang sama seperti sebelumnya, tim Beta bertahan di temapat yang sama seperti sebelumnya dan Alfa juga menyerang dari lokasi yang sama. Penulis bertugas sebagai pengumpan di arah kiri kami, kedua rekan tim penulis lainnya sudah bergerak terlebih dahulu ke sisi kanan. Rencana awal adalah kami bertiga akan maju menyerang dair sisi kanan, setelah penulis melakukan pengumpanan di sisi kir, tetapi rencana tidak berjalan lancar. Penulis membuka tembakan karena melihat seorang tim Beta yang bergerak dari arah kiri kami. Kemudian menunnggu orang tersebut untuk maju, agar bisa penulis sergap, lama menunggu orang tersebut tidak terlihat juga akhirnya penulis memutuskan menysul rekan yang lain. Dan di tengah perjalanan menyusul rekan tim yang lain, penulis disergap oleh Cifara. Penulis menyangka di daerah dimana penulis disergap sudah diamankan oleh rekan lain, tetapi ternyata tidak demikian. Akhirnya penulis pulang ke Mako dan disana bertemu Bang Budiadi yang hendak melakukan rapat dengan Phantom, Jatay dan Wecky mengenai pelatihan Satpam. Beberapa lama setelah penulis samapai di Mako, Cifara dan Janu menyusul, mereka dibabat oleh Wecky. Dan beberapa lama kemudian teman-teman lain datang menyusul. Kemenangan di peroleh oleh tim Beta yang memepertahankan bendera.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ada hal aneh yang dialami oelh Phantom, ketika ia melakukan kontak dengan Jatayu dan Heheng, ia melihat orang ketiga yang disangkanya Cifara menembakinya, peluru BB yang mengenai dirinya sangat nyata terasa di helm yang dipakai Phantom. Phantom balas menembaki orang tersebut sampai magazinnya kosong tetapi orang tersebut tidajk mengaku hit. Hal ini agak aneh sebab Cifara telah tertembak duluan sebelum peristiwa itu terjadi, sedang Jatayu dan Heheng mengaku bawa yang mengeroyoki Phantom hanya mereka berdua tidak ada Cifara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami ramai membahas “orang“<span> </span>tersebut, sebab Wecky mengaku bahwa ia beberapa kali melihat sosok gaib di dalam hutan pada skirmish-skirmish sebelumnya. Entah darimana asalnya sosok gaib tersebut, tetapi ia beberapa kali ikut bermain dengan kami. Sungguh membuat bulu kuduk berdiri sosok hantu (<em>phantom</em>) yang tembak-tembakan dengan Phantom Cakra-8 (Bang Nazar). Mungkin bila ia muncul lagi ke hadapan salah satu diantara kami, sudah saatnya menjelaskan aturan permainan. Paling tidak bila ia sangat ingin bermain dengan kami, ia harus mengikuti aturan permainan (terlepas dari mana ia berasal). Bila terkena peluru BB, ia harus mengaku hit, walapun mungkin baginya peluru tersebut tidak tersasa sakit. Peraturan tetap adalah peraturan yang harus ditegakkan tanpa memandang bulu, hantu atau manusia.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cakra8.wordpress.com/30/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cakra8.wordpress.com/30/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/30/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/30/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/30/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=30&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/06/19/phantom-vs-phantom/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Untouchable</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/06/13/untouchable/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/06/13/untouchable/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Jun 2008 02:11:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Cakra-8]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa UI]]></category>
		<category><![CDATA[Military]]></category>
		<category><![CDATA[militer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Bertepatan dengan hari kebangkitan nasional serta perayaan Waisak tanggal 20 Mei 2008, kami berkumpul kembali untuk berlatih. Hari itu merupakan hari libur bagi sebagian kami. Kali ini Hawk-Eye bermain untuk pertama kalinya. Panji juga membawa dua orang rekannya dari daerah Pamulang untuk bermain, sayang penulis lupa nama mereka. Yuni yang sedang berlibur dari Aceh pun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=27&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span lang="DE">Bertepatan dengan hari kebangkitan nasional serta perayaan Waisak tanggal 20 Mei 2008, kami berkumpul kembali untuk berlatih. Hari itu merupakan hari libur bagi sebagian kami. Kali ini Hawk-Eye bermain untuk pertama kalinya. Panji juga membawa dua orang rekannya dari daerah Pamulang untuk bermain, sayang penulis lupa nama mereka. Yuni yang sedang berlibur dari Aceh pun ikut serta, ia dan Ponco datang telat (maklum barengannya si Ponco maklum aja&#8230;). Meereka datang setelah kami ronde pertama. Karena sering telat, kali ini kami memberi hukuman kepada Ponco dan Yuni yang besertanya juga turut terkena hukuman. Hukuman bagi mereka adalah push-up sejumlah menit ketelatan mereka dari janji pertemuan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pada ronde pertama kami membagi diri menjadi dua tim dengan cara <em>gambreng</em> tangan. Tim pertama terdiri dari Bang<span> </span>Nazar, Wecky, Hawk-Eye dan Panji. Sedangkan anggota tim kedua adalah Jatayu, dua orang teman Panji dan Skipper. Sebenarnya Cifara masuk ke dalam tim penulis, tetapi karena ia ada keperluan tiba-tiba, ia tidak dapat bermain di ronde pertama.</span><span id="more-27"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Skenarionya adalah “ambush“ seperti biasanya. Tim penulis masuk dahulu ke dalam hutan disusul oleh tim Wecky. Karena dua orang teman baru kami ini adalah pemain baru dan hanya bersenjatakan Shotgun, maka Jatayu membagi kekuatan kami menjadi dua sub-tim. Sub-tim pertama adalah kedua teman Panji tersebut. Mereka diposisikan di daerah dekat pagar hutan yang relatif aman, disana mereka diminta diam dan hanya menembak bila terpaksa. <span> </span>Sedangkan Jatayu dan penulis melakukan patroli menjauhi pagar tersebut untuk memancing musuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah memposisikan kedua teman baru tersebut di daerah yang aman dan terlindungi, kami pun berpatroli. Sesaat kemudian penulis melihat seorang angota tim lawan sedang berjalan. Tanpa buang waktu penulis menembakinya, orang tersebut berlindung dibalik pohon kemudian balas menembak. Dari suara tembakannya dapat diketahui bahwa orang tersebut adalah Hawk-Eye yang memegang G-36. Kami tidak melayani tembak menembak dengannya tetapi memilih bergerak ke arah kiri kami, yaitu ke arah barat hutan. Tetapi herannya Hawk-Eye terus menembak walaupun tembakannya tidak dilayani oleh siapapun. Pada perjalanan kami ke arah barat, penulis melihat seorang anggota lawan lagi, kembali penulis menembakinya. Tapi kali ini orang tersebut tidak menembak balik, tetapi malah diam kemudian menghindar. Kami terus menuju arah barat untuk menghindari sergapan lawan. Di suatu daerah penuh semak belukar kami ditembaki. Kami membalas tembakan tersebut dan berusaha mengejar lawan yang pandai bersembunyi ini, ia menembak lalu pergi menghindar. Dalam pengejaran tersebut di sebuah jalan setapak, Jatayu yang berada di depan penulis ditembaki dari arah kanan kami, penulis balas menembak ke arah lawan tersebut. Ternyata ia adalah Bang Nazar, Jatayu terkena tembakan olehnya. Tetapi penulis berhasil menembaknya. Bang Nazar sempat protes sebab ia mengklaim bahwa ketika terjadi tembak menembak pertama dengannya, Jatayu sudah terkena dahulu tetapi tidak mengaku. Akhirnya jatayu mengaku juga kalau ia menjadi Zombie (istilah dalam permainan Airsoft bagi seseorang yang telah tekena tembakan tetapi tidak mengaku dan meneruskan permainan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Bang Nazar dan Jatayu melenggang keluar dari derah konflik, penulis yang sadar bahwa kalahg kekuatan meneruskan perjalanan ke arah barat. Dengan tujuan untuk bergerilya dan menyerang secara diam-diam sisa kekuatan lawan. Tetapi penulis mengalami disorientasi medan. Walaupun sudah seringkali berada dan bergerak di hutan tersebut, tetap saja kebingungan harus bergerak kemana. Suatu saat penulis smapai di tepi danau UI, penulis memutar haluan balik ke arah hutan tetap dengan pergerakan senyap dan penuh kehati-hatian. Setelah lama bergerilya dan tidak berjumpa dengan lawan ataupun kawan, terdengar suara snyap-senya seseorang memanggil-manggil nama penulis. Rupanya Cifara yagn sudah datang dari urusannya, ia memanggil penulis keluar dari hutan dan menuju ke Mako kembali, sebab semua personil Cakra-8 sudah merapat ke sana dan<span> </span>permainan dinyatakan selesai. Rupanya tim lawan yang memburu penulis kelelahan dan memang sudah satnya makan siang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Di mako penulis melihat semua orang sedang berkumpul, di mako juga sedang ada kegiatan ourbound dari peserta luar (pemuda-pemudi dari sebuah gereja)yang dipandu anak Mako. Pesertanya ada yang cantik coy&#8230;he..he..he. Tapi ya sedang tugas nih, jadi kayaknya tidak pantas mendekati wanita bila sendang memakai seragam ala militer dan membawa-bawa senjata (walaupun hanya senjata replika). Belakangan setelah bekordinasi dengan <strong>Bang Moses</strong><span> </span>(alumni Menwa yang membawa para pemuda-pemudi gereja tersebut), diketahui nona cantik yang menjadi peserta di outbound itu akan menikah di bulan Agustus&#8230;.yahhh&#8230;nasib&#8230;..</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ronde kedua kami mulai setelah makan siang, kali ini Yuni dan Ponco sudah merapat ke Mako. Dan sebagai hukumannya mereka mendapatkan hukuman push-up. Kami berpisah menjadi dua tim dengan cara <em>gambrengan</em>. Tim pertama adalah Bang Nazar, Jatayu, Yuni, Ponco dan Hawk-Eye. Wecky, Cifara, Panji, dua orang baru dan penulis menjadi tim kedua. Skenario yang kami mainkan adalah bendera bertahan sama seperti yang pernah kami mainkan pada pertemuan terakhir dengan ARCAT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dalam Ronde ini tim penulis akan memepertahankan bendera, daerah pertahanan sama seperti lokasi yang ditempati oleh ARCAT pada skirmish sebelumnya. Wecky mengatur posisi kami masing-masing, secara khusus ia meminta kedua orang baru untuk tetap dalam posisinya tanpa bergerak, sama seperti yang Jatayu minta mereka lakukan di ronde pertama. Mereka berada di posisi yang paling dekat dengan bendera. Sementara penulis dan Wecky tepat berada di area sisi kiri kedua orang baru tersebut untuk memberi bantuan bila diperlukan dan menahan serangan dari sisi kiri bendera. Panji berada di belakan penulis, jauh di belakang untuk menahan serangan lambung. Cifara berada di sisi kanan bendera, ia memantau daerah terbuka dimana penulis sempat berguling-guling ketika skirmish bersama ARCAT. Penulis yang berada di sisi paling kiri dan berhadapan langsung dengan perpohonan, was-was bila tim lawan masuk dari arah perpohonan tersebut. Sebab perpohonan merupakan perlindungan ampuh dalam perang hutan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami lama menunggu tim lawan datang menyerang, hingga pada akhirnya Wecky membuka tembakan. Sebelumnya ia memberi kode dengan tangan kepada penulis bahwa ia memantau lawan dihadapannya. Ketika Wecky asik melayani lawan , penulis memantau daerah depan mengawasi serangan melambung dan ketika dirasa aman penulis maju ke depan dengan hati-hati. Penulis melihat lawan yang sedang berhadapan dengan Wecky, ia adalah Jatayu, penulis ikut serta menembaki Jatayu. Ia mnghidar mungkin karena sadar kalah jumlah, tidak ada rekan satu timnya yang mendukungnya dalam kegiatan tembak menembak tersebut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Lama kami terlibat dalam tembak menembak degnan Jatayu, sampai akhirnya penulis dan Wecky dapat mengepungnya dan menembaknya. Jatayu yang pertama keluar dari permainan. Penulis kembali ke posisi awal, mengawasi daerah perpohonan. Sampai akhirnya Wecky kembali terlibat tembak menembak, bahkan kali ini meninggalakan posnya. Penulis tidak tahu kemana Wecky pergi tapi sesaat kemudian terdengar suara koakangan senjata shotgun. Penulis meninggalkan pos menuju pos dua teman baru kami, mereka terlibat tembak menembak dengan seseorang yang memakai G-36. Orang tersebut pastinya adalah Hawk-Eye, karena pertarungan tidak seimbang, penulis membantu kedua teman baru tersebut. Mereka tetap di posisinya tanpa bergerak maju, melihat itu penulis maju secara perlahan dari arah rimbunan semak kemudian menembaki semak-semak darimana arah suara G-36 terdengar. Dari pergerakan semak didepan penulis terlihat Hawk-Eye bergerak menghindar, penulis berpindah posisi sembari memantau. Agak mudah bagi penulis<span> </span>untuk bergerak sembari memantau, karena penulisbergerak di tanah yang tidak dipenuhi rimbun semak. Dan berdasarkan pergerakan semak-semak, penulis berhasil menembak Hawk-Eye. Ia keluar sembari teriak hit dan mengeluarkan kata <em>F***k You</em>&#8230;.he3x</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Seorang teman baru meminta peluru dari penulis. Penulis membuka magazin dan memberinya bebrapa peluru. Pada saat itulah penulis melihat bahwa penulis juga kekurangan peluru. Penulis berteriak kepada Cifara bertanya kepadanya dimana peluru. Cifara berteriak membalas untuk memberitahukan dimana peluru. Penulis bergeraka ke arah yang ditunjukkan oleh Cifara. Disana terlihat Wecky sedang mengisi peluru, melihat kedatanagn penulis Wecky berteriak-teriak agar penulis kembali ke posisi. Penulis menjawab teriakan itu menerangankan bahwa penulis dan seorang anggota baru kekurangan peluru. Wecky berlari dan segera menyerahkan kantong peluru kepada penulis dan menyuruh penulis kembali ke posisi. Sebelum kembali ke posisi, penulis mampir dahulu ke posisi teman-teman baru dan membagi-bagi peluru dengan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah peluru penuh penulis kembali ke posisi, kembali lama kami menunggu serangan lawan. Dan akhirnya dari sisi Cifara terdengar tembakan, sesaat kemudian Wecky dan Cifara terlibat tembak menembak dengan lawan. Penulis tetap menunggu di pos sebab peluru penulis kurang kalau ingin terlibat tembak menembak, jadi sebaiknya bertahan saja di pos. Entah kapan Ponco tertembak, sesaat kemudian terdengar suara Wecky yang menginformasikan bahwa sisa kekuatan lawan hanya dua yaitu Yuni dan Bang Nazar. Dan tidak lama berselang terdengar teriakan hit dari Yuni yang menandakan bahwa ia terkena peluru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Wecky berteriak memerintahkan kami semua bergerak maju untuk mencari Bang Nazar. Kami bergerak maju, penulis bergerak bersama teman-teman baru di sisi kiri, sementara Wecky dan Cifara menembaki daerah depan. Tiba-tiba penulis melihat Bang Nazar berlari ke depan sembari menembak, penulis langsung menembaknya di lengan sebab jarak antar kami sangat dekat. Rupanya Bang Nazar berlari mengejar Wecky dan berhasil menembaknya, tapi karena ia berlari penulis berhasil menembaknya. Dan permaian ronde kedua selesai dengan kemenangan tim penulis, hanya satu orang yang terkena di tim kami yaitu Wecky. <span> </span>Dan untuk pertempuran hari ini tidak satu peluru BB pun yang mengenai tubuh penulis. senang juga sih&#8230;he..he..he</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ronde ini adalah yang terakhir bagi kami hari itu, karena Hawk-Eye harus pulang ke rumah untuk suatu urusan. <span> </span>Tiba di Mako kami kedatangan tamu yaitu Mas Yudi ARCAT/GAT, ia membawakan Bang Nazar sebuah senjata baru yaitu AK-47. Rupanya Mas Yudi adalah seorang suplier senjata Airsoft. Harga yagn diberikannya juga miring dibanding dengan harga toko. Bang Nazar terlihat sangat gembira dengan senjata barunya dan kami punya kesempatan untuk “memperawani“ barang baru ini. Kami terus mengobrol sampai sore, dalam suatu saat di sore itu Bang Nazar meminta kami memberikannya sebuah nama julukan. Setelah kami mengajukan banyak nama, akhirnya Bang Nazar setuju dengan “<strong>Phantom</strong>“ untuk menjadi julukannya. Nama ini terispirasi dari gerakan tempurnya yang suka merayap, melintasi rimbuanna semak dan setia menunggu lawan dengan tenang dan senyap layaknya hantu (<em>Phantom</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:Calibri;"> </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cakra8.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cakra8.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=27&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/06/13/untouchable/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Minimi</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/06/06/the-minimi/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/06/06/the-minimi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 07:59:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Cakra-8]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa UI]]></category>
		<category><![CDATA[Military]]></category>
		<category><![CDATA[militer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Tanggal 10 Mei 2008 kami bertemu lagi dengan ARCAT. Kali ini mereka datang agak telat, mungkin karena beberapa kali pertemuan kami anak-anak Menwa juga telat datangnya. ARCAT agak kaget karena kami telah memiliki senjata-senjata AEG baru. Sesuai kesepakatan tentang Dantim yang dijabat secara bergiliran, maka kali ini tim kami dikomandani oleh Wecky. Terdapat prosesi baru [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=25&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Tanggal 10 Mei 2008 kami bertemu lagi dengan ARCAT. Kali ini mereka datang agak telat, mungkin karena beberapa kali pertemuan kami anak-anak Menwa juga telat datangnya. ARCAT agak kaget karena kami telah memiliki senjata-senjata AEG baru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sesuai kesepakatan tentang Dantim yang dijabat secara bergiliran, maka kali ini tim kami dikomandani oleh Wecky. Terdapat prosesi baru kali ini kami jalani, yaitu kami berbaris terlebih dahulu dan melakukan brifing sesaat sebelum memulai kegiatan. Tim kami juga kedatangan pemain baru yaitu <strong>Panji</strong>, ia adalah teman Jatayu dari Pamulang. Anggota tim kami yang bermain kali ini adalah, Bang Nazar, Jatayu, Wecky, Cifara, Ponco, Janu, Panji dan Skipper.</span><span id="more-25"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Skenario pertama yang kami mainkan adalah “<strong>ambush</strong>“. Seperti biasa tim kami masuk dahulu, ARCAT menyusul 10 menit kemudian. Di dalam hutan, Wecky membagi kami menjadi dua sub-tim. Sub-tim pertama terdiri dari Wecky, Bang Nazar, Ponco dan Panji. Sedangakan sub-tim kedua terdiri dari Jatayu, Cifara, Janu dan Skipper. Sub-tim Wecky berada di depan dan kami sub-tim kedua berada di belakang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sub-tim penulis mengatur posisi penyergapan (bila memakai istilah penulis: <strong><em>camper strike</em></strong>) di sebuah daerah yang kami perkirakan baik untuk menyergap lawan. Jatayu berada di sebelah kiri penulis, Janu di sebelah kanan, dan Cifara berada di belakang. Setelah lama menunggu sampai kaki keram, Jatayu mengajak kami untuk berpatroli ke arah kiri kami (yaitu daerah di depan Jatayu). Setelah semua anggota menerima informasi ini dengan saling memberitahu teman terdekat, kami pun bergerak ke arah kiri penulis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dalam patroli tersebut penulis men-spot seorang anggota ARCAT, penulis langsung buang tembakan. Anggota ARCAT tersebut menghindar ke arah kanan. Kami langsung mengatur posisi, sesaat kemudian kami terlibat tembak menembak dengan ARCAT. Sub-tim kami bermain hati-hati tidak langsung menyerbu ke depan langsung, begitupun juga dengan ARCAT. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Cifara dan penulis sempat tembak menembak dengan seorang anggota ARCAT bernama pak Yusuf yang hari itu berpenampilan seperti tentara Amerika pada perang vietnam. Karena penampilannya penulis menjulukinya <strong>G.I</strong>. Sang G.I. memakai senjata kokang jenis shotgun, yang merupakan replika dari shotgun yang dipakai di perang Vietnam. Pertempuran kami cukup alot, walaupun hanya memakai senjata kokang, GI dapat menahan serangan kami dengan berlindung di sebuah pohon yang dikelilingi semak-semak tinggi. <span> </span>Sesaat penulis berfikir akan maju melambung mengitari daerah tersebut untuk menghabisi G.I. , tetapi melihat kondisi daerah itu dan arah serangan ARCAT penulis mengurungkan niat tersebut, karena kemungkinan penulis akan masuk ke dalam jebakan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Akhirnya si G.I. mundur ke arah kanan depan pergerakan kami. Jatayu yang berada di sisi kanan formasi kami juga melakukan tembakan. Melihat pergerakan dan arah serangan ARCAT, arah haluan formasi kami berubah. Cifara dan penulis yang tadinya berada di posisi depan, berubah posisi dalam formasi tersebut. Penulis berada di posisi Cifara berda di posisi belakang, Janu di posisi kanan sedang Jatayu di posisi depan. Sesaat kemudian ARCAT berhenti menyerang, keaadaan di sekitar kami sunyi. Tiba-tiba terdengar suara tembakan lagi, Cifara berteriak<span> </span>Hit. Penulis langsung mengisi posisi Cifara setelah ia keluar dari permainan dan memantau keadaan di sisi kiri dan belakang kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Lalu Jatayu membuka tembakan,<span> </span>penulis menuju ke arahnya untuk membantu. Tembak menembak hanya terjadi sesaat, penulis melihat ke belakang ke arah posisi awal sebelum bergerak. Penulis melihat seorang anggota ARCAT sedang merayap ke arah kami, penulis langsung menembaknnya beberapa kali dan mengenainya. Anggota ARCAT tersebut keluar dari permainan, beberapa saat kemudian kembali Jatayu terlibat tembak menembak, dan hal yang sama kembali terjadi, penulis bergerak ke arah Jatayu tembak menembak berhenti, penulis melihat ke belakang dan tampak lagi seorang anggota ARCAT merayap mendekati kami. Dan seperti nasib temannya, anggota ARCAT yang merayap ini pun tertembak oleh penulis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Rupanya mereka telah mengepung kami, anggota ARCAT yang tembak menembak dengan Jatayu hanya melakukan pengalih perhatian. Kedua temannya (atau bisa lebih dari dua) berusaha mendekati kami untuk menyerang dari arah belakang, tapi gagal. Jatayu meberi kode dan berteriak ke penulis bahwa anggota ARCAT yang tembak menembak dengannya dalam posisi terkunci, penulis memberi kode kepada Janu untuk mendelkat ke arah Jatayu. <span> </span>Sementara penulis dan Jatayu mengepung dan mengeroyoki anggota ARCAT ini, Janu melindungi di belakang kami. Setelah berhasil menghabisi anggota ARCAT tersebut, kami bergerak menjauhi tempat konflik dengan formasi saling melindungi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Di tengah pergerakan seorang anggota ARCAT menembaki kami. Menghindari terkena peluru BB, kami semua tiarap dan bergerak merayap. Penulis sempat melakukan tembakan pengalih perhatian, kemudian disusul Jatayu. Sesaat kemudian kami kejar-kejaran dengan anggota ARCAT yang tidak diketahui jelas posisinya. Akhirnya penembak itu terpanatau oleh kami, tapi daerah itu dipenuhi rimbunan semak sehingga sulit melakukan “<strong><em>clear shot</em></strong>“. Jatayu dan penulis kembali berusaha mengepung anggota ARCAT tersebut. Jatayu dari sebelah kanan, penulis dari sebelah kiri sedangakan Janu melindungi sisi belakang kami. Beberapa saaat tembak menembak, angoota ARCAT tersebut lari dengan cepat menjauh sembari berteriak-teriak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami memburu anggota ARCAT tersebut dengan hati-hati bergerak <span> </span>membaca jajak pergerakan buruan kami, sambil saling melindungi satu sama lain. <span> </span>Di tengah perburuan tersebut HP penulis berdering, Abe salah satu anggota Cakra-8 yang tidak ikut bertempur kali itu menelpon untuk memberitahu bahwa seluruh anggota ARCAT telah keluar dari hutan. Rupanya anggota ARCAT yang sedang kami buru merupakan sisa terakhir kekuatan mereka. Tapi kami masih kebingungan apakah ia berlari karena terkena tembakan kami, atau lari karena panik dan akhirnya memutuskan untuk menyerah. Tapi bagaimanapun kami senang berhasil memenangkan ronde pertama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah istirahat makan siang kami memulai ronde kedua. Kali ini Jatayu tidak ikut dalam pertempuran karena harus rapat dengan Komandan dan para staff Menwa UI. Wecky juga tidak ikut karena bertugas sebagai “wartawan perang“, alias tukang foto yang akan mengambil gambar kami yang sedang bertempur. Karena jumlah kami yang kurang sebab banyak anggota ARCAT yang telat baru bergabung dalam ronde kedua, kami mendapat tambahan tiga orang dari ARCAT, yaitu <strong>Pak Ricky</strong> dan <strong>Mas Yudi </strong>serta seorang anggota GAT. Karena Abe bergabung dengan kami dalam pertempuran kali ini, Panji dimasukkan dalam ARCAT agar kedudukan seimbang. Kedua anggota ARCAT ini memakai seragam Doreng Jerman yang merupakan seragam Cakra-8, oleh karena itu mereka dimasukkan ke tim kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Skenario pertempuran kali ini adalah merebut bendera yang diletakkan di tengah hutan. Dalam ronde iniARCAT mengeluarkan senjata pamungkasnya, yaitu Minimi. AEG ini memiliki banyak keunggulan dibanding dengan yang lain. Selain magazin yang dapat menampung peluru yang lebih banyak, senjata ini juga memakai sistem motor untuk mendorong peluru BB. Sehingga operator senjata ini tidak perlu mendorong peluru secara manual, seperti pada AEG lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Mas Yudi menjadi perancang strategi tim kami kali ini. Ia membagi pasukan menjadi tiga sub-tim berdasarkan jenis senjata.<span> </span>Sub-tim pertama terdiri dari mereka yang memiliki senjata jenis “<strong><em>Rifle</em></strong>“ (HK-416, AK47, G36). Anggota sub-tim ini adalah Bang Nazar, Cifara, Janu dan penulis. Sedang mereka yang bersenjata MP-5, Pistol dan <em>Shotgun</em> dipecah menjadi dua sub-tim yang akan melambung dari sisi kanan dan kiri. Di sisi kiri adalah para anggota “<em>cabutan</em>“ dari ARCAT dan GAT. Sedang di sisi kanan adalah Ponco dan Abe.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sub-tim penulis bertugas untuk melakukan serangan langsung ke arah bendera. Kami mengatur formasi satu bersap untuk melakukan misi tersebut. Dalam pergerakan kami menuju sasaran, kondisi hutan tidak mengijinkan kami mempertahankan<span> </span>formasi tersebut dan menyesuaikan diri dengan daerah yang kami lalui. Penulis membuka tembakan pertama setelah melihat seorang anggota ARCAT. Anggota ARCAT tersebut tidak membalas dan malah menghindar. Cifar dan penulis berada di depan, sedangkan Bang Nazar dan Janu berada di belakang kami sebagai pelindung. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dalam suatu waktu, bang Nazar lepas dari tim kami, belakangan setelah pertempuran selesai, diketahui ia bergabung dengan Ponco karena melihat beberapa anggota ARCAT dan mencoba menyergap mereka. Tetapi karena senjata Bang Nazar macet, ia langsung keluar dari permainan. Karena kehilangan<span> </span>Bang Nazar sub-tim penulis sekarang berjumlah tiga orang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami terus merangsak ke depan mencari bendera, sampai akhirnya bertemu dengan sub-tim Mas Yudi. Kedua sub-tim ini merger menjadi satu dan melanjutkan patroli. Patroli kami terus bergerak ke depan dan beberapa kali melakukan kontak senjata dengan ARCAT. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pernah dalam suatu kontak senjata, karena ragu apakah berhadapan dengan lawan atau kawan, Mas Yudi meneriakkan sandi dan dijawab dengan benar oleh lawan. Tetapi setelah pertempuran selesai diketahui bahwa orang yang menjawab sandi tersebut adalah panji dari tim lawan. Panji tahu jawaban pertanyaan sandi sebab sebelum ia dilepas ke ARCAT ia sempat mendengar kami membicarakan sandi. Penggunaan sandi merupakan taktik yang diterapkan Cakra-8 untuk mengenali satu sama lain. Taktik semacam ini merupakan pelajaran dasar dalam pendidikan Resimen Mahasiswa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Patroli kami memutar haluan ketika belum juga menemukan bendera. Dalam patroli kali ini kami terpisah dengan sub-tim Mas Yudi, mereka ke arah kanan kami ke arah kiri. Kondisi rimbunan semak di hutan itu menyebabkan ini terjadi. Kembali hanya kami bertiga Cifara, Janu dan penulis. <span> </span>Dalam perjalanan sub-tim penulis mencari bendera, kami melihat seorang anggota ARCAT, kami sempat menembakinya. Anggota ARCAT ini tidak terkena dan ia terus menjauh.<span> </span>Kami tidak memburunya melainkan terus menuju ke depan mencari bendera untuk segera menyelesaikan pertempuran.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Akhirnya kami mendengar suara Minimi ditembakkan, kami terus maju ke depan karena merasa bahwa daerah pertahanan lawan sudah dekat. Dalam pergerakkan kami ke depan, kami melihat ma Yudi dan pak Ricky yang berjalan pulang ke Mako karena telah tertembak. Kami bergerak di tengah rimbuanan semak sebagai perlindungan. Sampai sautu ketika penulis melihat seorang ARCAT, penulis menembaknya tapi jarak sasaran terlalu jauh sehingga peluru BB tidak dapat mengenainya. Anggota ARCAT tersebut menghindar dan berteriak kepada rekannya. Ruapanya ia berteriak kepada temannya yang memegang Minimi memberitahukan posisi kami. Selanjutnya Minimi memberondongi kami, kami bertahan dibalik pohon tanpa bisa bergerak. Janu berkata pada penulis bahwa ada lawan di belakang posisinya, tetapi penulis salah tangkap maksud Janu. Penulis mengira itu ajakan untuk mundur ke belakang, langsung saja penulis berlari ke belakang formasi bermaksud mengamankan daerah. Tiba-tiba penulis ditembaki oleh seorang ARCAT dan terkena di bibr penulis. Penulis langsung menjatuhkan diri (maklum anak Aikido), karena sakit sekali terkena di bibir, kemudian berteriak Hit. <span> </span>Orang menembak penulis ditembaki oleh rekan penulis, entah oleh Cifara atau Janu. Sehingga kami berdua keluar dari daerha permainan menuju Mako. Penulis melihat anggota ARCAT tersebut menyandang senjata Sniper dan MP5 PWDW. Penulis bertanya dengan apa ia menembak penulis, si penembak menjawab bahwa ia menembak dengan MP5 PWDW, senjata yang ukurannya kecil seperti mainan anak-anak. Semakin penuli miris, sudah tertembak di bibir ditembak dengan senjata mungil lagi&#8230;.ampunn&#8230;ampunnn&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami semua beristirahat sejenak sebelum memulai ronde ketiga. Ronde ketiga ini berlangsung di hutan sebelah utara mako, dekat dengan jalan menuju asrama UI. Sekenario kali ini adalah salah satu tim bertugas untuk merebut bendera, sedangkan tim lain bertugas mempertahankan bendera tersebut. Tim Cakra-8 menjadi tim penyerang sedangkan ARCAT bertahan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sekali lagi Mas Yudi dan Pak Ricky bergabung dengan tim kami untuk menyeimbangkan kekuatan. Wecky ikut bergabung dengan tim kami setelah “pensiun“<span> </span>sebagai wartawan perang. Panji pun bergabung dalam tim kami, sebab Abe dan seorang anggota GAT yang sebelumnya ikut dalam tim kami harus pulang duluan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Mas Yudi kembali menjadi pengatur strategi di tim kami, tetap dengan strategi yang sama seperti sebelumnya. Pemisahan kekuatan berdasarkan jenis senjata. Pak Ricky yang tadinya bergabung dengan kami harus keluar dari permainan sebelum permaian dimulai sebab kehilangan google-nya. Akhirnya Cifara yang seharusnya bergabung dengan sub-tim “<em>rifle</em>“, berpindah ke sub-tim Mas Yudi yang akan menyerang dari sisi samping kiri. Sub-tim yang akan menyerang dari sisi kanan adalah Wecky, Ponco dan Panji. Sedandkan Bang Nazar, Janu dan penulis menyerang dari bagian tengah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Permainan pun dimulai, sub-tim Wecky berangkat terlebih dahulu ke posisinya, sebab posisinya paling jauh dari tempat kami merapatkan strategi. Beberapa saat<span> </span>setelahnya sub-tim penulis dan sub-tim Mas Yudi menuju posisi masing-masing. Hanya kira-kira 20 meter dari tempat kami rapat, penulis melihat seorang anggota ARCAT mengendap-ngendap di sebuah kebun singkong. Daerah dimana ia mengendap-ngendap cukup terbuka, sebab singkong-singkong yang ada di situ belum tumbuh tinggi. Penulis membuka tembakan ke arah sasaran yang tidak membalas tetapi malah mundur. <span> </span>Sesaat kemudian terdengar tembakan dari arah sisi kiri dimana Mas Yudi dan Cifara akan melakukan gerakan melambung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sub-tim penulis mengkonsentrasikan perhatian kami ke arah kebun singong di depan kami. Seorang anggota Arcat terlihat lagi merayap ke arah kami, dan kami menembakinya. Sesaat kemudian terjadi tembak menembak antara kami dan ARCAT, tetapi itu hanya berlangsung sebentar. Lalu terdengar suara anggota ARCAT tersebut berteriak dala mbahasa inggris mengatakan bahwa ada lawan di hadapannya. <span> </span>Selebihnya hening, kami maju pelan-pelan<span> </span>berhati-hati mengawasi daerah di depan kami. <span> </span>Bang nazar mengambil posisi di sebelah kiri penulis, di sisi itu terdapat rimbunan semak daerah yang baik untuk berlindung. Penulis berada di tengah dan Janu di sisi kanan, daerah pergerakan kami adalah ladang singkokng yang terbuka. Penulis terus maju ke depan menuju sebuah pohon yang dikelilingi tumbuhan-tumbuhan tinggi, daerah yang aman untuk berlindung. Sub-tim penulis bergerak bersap dan berusaha tetap sejajar. Agak sulit melihat pergerakan Bang Nazar sebab ia bergerak di rimbunan semak, sedang Janu dan penulis<span> </span>sangat terbuka terhadap serangan. Hal ini menyebabkan penulis berusaha dengan cepat (tetapi tetap berhati-hati) untuk mencapai pohon untuk berlindung.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ketika sampai di pohon tersebut, penulis langsung memberi kode kepada Janu agar merapat ke posisi penulis untuk berlindung. Penulis mengamati daerah di depan penulis. Daerah dataran yang merendah ke arah danau, di dekat danau terdapat rawa dan daerah itu minim sekali rimbunan semak untuk berlindung. Pas di depan kami adalah sebuah jalan setapak, sedangkan di sebelah kanan tidak terlalu jauh dari posisi kami berlindung terdapat pepohonan bambu, pisang serta pohon-pohon lain. Penulis mencari Bang nazar di semak-semak sebelah kiri, terlihat ia sedang merayap ke arah kami dilindungi tumbuhan-tumbuhan di sekitarnya. <em>Gile coy</em> merayapnya <em>keren habis</em>, hanya kelihatan tumbuhan-tumbuhan saja yang bergerak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Janu meminta penulis melindunginya ketika ia akan bergerak menuju sebuah pohon besar lagi di sebelah kanan kami. Setelah Janu berada di posisi tesebut, giliran penulis bergerak ke arah depan kanan dan tidak disangka penulis melihat bendera yang akan kami rebut dipasang di sebuah pohon singkong. Penulis memberitahu<span> </span>Janu bahwa bendera di depan kanan kami, lalu penulis mencoba memberitahu Bang Nazar. Penulis melihat Bang Nazar sedang tiarap, posisinya sejajar dengan bendera. Penulis memberi tanda dengan acungan jempol dan Bang Nazar membalasnya. Walaupun posisinya sejajar dengan bendera, tapi karena jarak yang jauh dan<span> </span>posisinya yang sedang tiarap Bang Nazar tidak melihat bendera tersebut. Penulis berfikir bahwa acungan jempol dari Bang Nazar menandakan ia juga telah melihat bendera tersebut, tetapi ada miskomunikasi di antara kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah berfikir semua anggota tim tahu situasi penulis berinisiatif untuk melintasi jalan setapak menuju dataran rendah di hadapan penulis. Menurut hemat penulis daerah itu realatif lebih aman unutk melakukan pergerakan ke arah bendera. Penulis meminta Janu melindungi penulis karena ia berada di depan sedang Bang Nazar berada di belakang. Akhirnya penulis bergerak, setelah sampai ke tujuan penulis melihat sebuah kumpulan tumbuhan tinggi di sebelah kiri bendera. Penulis melihat tumbuhan-tumbuhan itu merupakan perlindungan yang baik. Penulis memberi kode kepada Janu untuk mensejajarkan diri dengan penulis. Janu bergerak merayap mensejajarkan diri dengan penulis. Penulis melanjutkan pergerakan dari sisi kiri ke arah bendera, beberapa meter dari bendera tiba-tiba penulis diberondong oleh Minimi. Untungnya penulis bergerak dengan merayap di sisi kiri yang berbatasan dengan daratan rendah. Penulis langsung berguling-guling ke arah dataran rendah tersebut. Tembakan Minimi tidak berhenti juga sehingga penulis terus berguling ke arah kiri sampai akhirnya tidak kuat. Kepala penulis pusing akibat berguling guling, pandangan melayang-layang, napas terengah-engah dan rasanya ingin muntah. Untungnya tempat dimana penulis berhenti daerah yang cukup rendah dan terlindungi dari semprotan Minimi. Untuk sejenak penulis beristirahat, mengatur napas, menunggu pandang normal kembali dan kepala tidak pusing lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah kondisi fisik siap dan tembakan minimi reda, penulis merayap ke atas meuju kumpulan tumbuhan tinggi di dekat bendera. Penulis melihat Janu masih dalam posisi tiarap dan sesekali menembak, posisinya aman dari tembakam minimi karena dilindungi pohon besar. Janu terlibat tembak menembak dengan seseorang tetapi bukan dengan minimi. Untuk mengalihkan konsentrasi lawan<span> </span>dan melindungi Janu, dari balik tumbuhan-tumbuhan tinggi penulis menembak ke arah perpohonan di sebelah kanan depan bendera walaupun tidak melihat sasaran. Penulis memeprkirrakan di situ daerah dimana angota-angota ARCAT bersembunyi. Tembakan penulis dibalas oleh berondongan Minimi dari arah pepohonan tersebut. Penulis kembali tiarap dan berguling-guling sesaat ke daerah aman. Setelah semburan minimi reda penulis merayap ke atas kembali.<span> </span>Penulis melihat Janu sedang terlibat tembak-menembak dengan seseorang dan ketika penulis sampai di sisi jalan setapak, Janu berteriak Hit dan keluar dari permainan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Melihat Janu tertembak, penulis mundur ke belakang untuk berlindung. Karena merasa dalam tempat aman penulis bangkit dari posisi tiarap ke posisi berlutut. <span> </span>Tiba-tiba seorang anggota ARCAT muncul dari arah perohonan di samping kanan posisi Janu, ia adalah <strong>Pak Dicky</strong>. Ia berjalan dengan tenang, hal ini membuat penulis keheranan dan ragu apakah Pak Dicky sudah tertembak atau tidak melihat penulis. Tidak mau ambil resiko, penulis menembak Pak Dicky di lengannya. Ia kaget lalu bertanya kepada penulis apakah ia dan penulis adalah teman se-tim. Penulis menjawab dengan gerakan tangan bahwa kami tidak se-tim. Akhirnya Pak Dicky mengalah juga ia melangkah keluar dari permainan. Rupanya yang menembak Janu adalah Pak Dicky. Penulis menyangka selain menghabisi Janu Pak Dicky telah menembak Bang Nazar. Mas Yudi dan Cifara yang seharusnya melambung dari kiri, yaitu daerah di pinggir danau juga tak nampak, penulis berfikir bahwa mereka juga telah tertembak. Sedangkan sub-tim Wecky<span> </span>tidak diketahui keadaan dan keberadaannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Merasa telah sendirian penulis sempat depressi sesaat, tetapi ini tidak membuat penulis menyerah. Penulis bertekad untuk nekad lari menyerbu ke arah bendera dan mengambil bendera dengan segala resiko. Penulis bergerak ke atas menuju kumpulan tumbuhan sebagai perlindungan. Penulis melihat seorang anggota ARCAT yang memakai pakaian biasa degnan senapan laras panjan sedang melihat-lihat dari balik rimbuanan semak di belakang bendera. Belakangan setelah pertempuran selesai penulis mengetahui orang tersebut adalah seorang anggota Polisi Militer TNI AD. Penulis berinisiatif untuk menembaknya dahulu, ia membalas tembakan dan sesaat kami terlibat tembak menembak. Anggota ARCAT tersebut mundur, demikianpun dengan penulis. Penulis bergerak ke arah kiri belakang dan beristirahat sejenak sembali mencari akal. Di kiri depan penulis terdapat pohon tinggi dan rimbunan semak, dair balik pohon tersebut seorang anggota ARCAT muncul. Penulis mengenalinya sebagai G.I. hanya kepalanya yang tampak karena pohon itu dikelilingi oleh rimbunan semak tinggi. Tidak mau mengambil resiko penulis menembak ke arah G.I, penulis membidik helm yang dipakai olehnya sebab badannya tidak terlihat. Kami terlibat tembak menembak yang alot, penulis memanfaatkan kumpulan tumbuhan dihadapan penulis sebagai perlindungan. Penulis berhenti melayani G.I karena sadar akan kemungkinan serangan dari arah kanan depan dimana seorang anggota ARCAT tadi terpantau. Penulis melihat daerah kanan depan kososng, si anggota CPM tersebut tidak nampak. Akhirnya penulis memutuskan untuk nekad lari menuju bendera untuk merebutnya. Penulis menembak ke arah depan semabri berlari dan berteriak-teriak. Penulis tidak ditembaki ketika berlari menuju bendera, sesaat setelah bendera berada di tangan penulis anggota ARCAT memberondongi penulis. Semua peluru dari semua senjata mereka mengenai tubuh penulis. Tapi penulis tidak perduli, penulis mengangkat bendera tersebut dan senjata dan berteriak-teriak untuk memuaskan diri. Walaupun bendera sudah di tangan tetapi penulis dianggap Hit sebab perbedaa waktu antara pengambilan bendera dan tertembaknya penulis sangat singkat. Penulis mengalah saja, tidak perduli mau Hit atau tidak yang penting puas telah merebut bendera dengan tangan sendiri. Lagian penulis sudah stress bertahan di balik rimbunan tumbuhan-tumbuhan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis berjalan keluar daerah permainan menuju Mako. Sebenarnya tempat para purnawirawan adalah di pinggir danau di sebelah barat posisi bendera. Tetapi penulis sedang limbung sehabis mengalami pertempuran berat. Di tengah perjalanan penulis baru sadar ternyata salah satu bagian dari senjata penulis ada yang copot. Bagian belakang popor yang berfungsi sebagai penahan batere copot. Terpaksa penulis kembali ke tempat dimana penulis berguling-guling. Setelah beberapa saat mencari akhirnya bagian itu berhasil diketemukan. Dan pada saat itu baru penulis “ngeh“ bahwa tempat berkumpulnya para purnawirawan adalah di pinggir danau, sebab ada seorang ARCAT yang baru saja tertembak melewati penulis menuju tempat tersebut. Penulis berjalan ke arah tempat berkumpulnya para “purnawirawan“. Di tengah jalan penulis melihat Bang Nazar sedang tiarap, ternyata beliau belum “tewas“<span> </span>seperti dugaan penulis. Kalau penulis tahu dari tadi maka penulis akan berkonsoliasi dengan dirinya sebelum merebut bendera&#8230;.nasib&#8230;.nasib&#8230;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Para <span> </span>purnawirawan menunggu permaian selesai sembari saling berbincang satu sama lain, membicarakan pengalaman tempur atau membandingka senjata masing-masing. Beberapa lama kemudian dua orang anggota ARCAT muncul dari daerah pertempuran. Seorang bersenjatakan Minimi dan seorang yang lain bersenjatakan styer. Ini mengejutkan kami semua sebab ini bertanda bahwa pos Minimi telah ditaklukkan. Styer bertugas menjaga Minimi dari serangan lawan yng mendekat. Kami masih bertanda tanya siapa pelakunya. Pertanyaan ini akhirnya terjawab ketika Wecky, Ponco dan anggota CPM dari ARCAT datang ke pos purnawirawan untuk meminta peluru dari kami para purnawirawan. Sebenarnya tindakan untuk datang ke pos purnawirawan dengan alasan apapun dianggap tindakan curang, tapi ya sudahlah. Wecky bercerita bagaimana ia menghabisi Pos Minimi, ia melihat bagaimana Minimi dan Styer dalam posisi sejajar dan memberondong mereka dengan tembakan otomatis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ketiga orang tersebut setelah mengisi peluru kembali menuju medan perang. Si CPM yang datang lebih dahulu dari Wecky dan Ponco berangkat terlebih dahulu. Sementara Wecky dan Ponco masih berbincang-bincang. Tapi tak lama berselang si CPM kembali ke pos purnawirawan dengan dahi terluka. Rupanya ia terlibat pertarungan jarak dekat dengan Bang Nazar. Setelah permainan usai Bang Nazar bercerita kepada penulis kenapa hal itu dapat terjadi. Si CPM ketika berjalan menuju daerah tempur ia melihat Bang Nazar, ketika mereka berpapasan si CPM berusaha menembaknya tetapi bang Nazar menembak lebih dahulu. Karena jarak mereka dekat sekali dan si CPM tidak memakai perlengkapan keamanan yang sesuai (hanya memakai pelilndung mata) menyebabkan dahinya berdarah terkena peluru BB. Wecky dan Ponco<span> </span>masih di pos purnawirawan ketika si CPM datang lagi, mengetahui kekuatan lawan hanya tinggal GI seorang, mereka masuk ke dalam medan perang dengan percaya diri penuh. Jumlah tim kami yang sisa adalah empat orang Bang Nazar, Wecky, Cifara dan Ponco sedangkan tim lawan tersisa GI seorang. Sehingga hanya beberapa saat Wecky dan Ponco masuk kembali sisa kekuatan lawan dapat dilumpuhkan dan bendera dapat direbut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Akhirnya permainan selesai dengan kemenangan tim Cakra-8. Kami semua menuju Mako sambil bercerita tentang pengalaman masing-masing . Sebelum pulang ke rumah masing-masing kami semua beristirahat di lapangan depan Mako. Ada yang tidur-tiduran, duduk, makan pangsit lagi, minum teh botol, mencoba senjata dan lain-lain. Setelah beberapa kali saling bertemu antara Cakra-8 dan ARCAT semakin akrab. ARCAT malah sempat mengajak kami untuk bermain Skirmish <strong>CQB</strong> (<em>Close Quarter</em> <em>Battle</em>) di sebuah Hotel bekas di daerah Simprug. Kami berkata bahwa akan memenuhi undangan tersebut bila sempat. </span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cakra8.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cakra8.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=25&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/06/06/the-minimi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cakra-8</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/05/30/cakra-8/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/05/30/cakra-8/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 07:24:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Cakra-8]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa UI]]></category>
		<category><![CDATA[Military]]></category>
		<category><![CDATA[militer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/2008/05/30/cakra-8/</guid>
		<description><![CDATA[Sabtu 19 April 2008, beberapa anggota tim airsoftgun Menwa UI berkumpul, mereka adalah Bang Nazar, Jatayu, Wecky, Ponco dan Skipper. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh seorang veteran Menwa UI, yang walaupun belum pernah bertempur bersama kami tapi tertarik untuk bergabung, ia adalah Hawk-Eye (Dudih Purwadi). Dalam rapat itu dihasilkan beberapa butir-butir penting, diantaranya adalah nama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=6&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sabtu 19 April 2008, beberapa anggota tim airsoftgun Menwa UI berkumpul, mereka adalah Bang Nazar, Jatayu, Wecky, Ponco dan Skipper. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh seorang veteran Menwa UI, yang walaupun belum pernah bertempur bersama kami tapi tertarik untuk bergabung, ia adalah <strong>Hawk-Eye</strong> (Dudih Purwadi). Dalam rapat itu dihasilkan beberapa butir-butir penting, diantaranya adalah nama untuk tim ini yaitu, <strong>Cakra-8</strong>. Ide nama ini berasal dari Wecky, alasan memakai nama tersebut karena tidak semua anggota tim ini berasal dari alumni Menwa UI. “Cakra“ sendiri dilhami dari nama senjata yang terkenal di dunia pewayangan.<span> </span>Serta juga berkaitan dengan organisasi <strong>Cakrawala</strong>, yang merupakan organisasi yang memayungi tim airsoftgun ini. Angka “8“ berkaitan dengan asal organisasi ini, yaitu alumni Menwa UI. Batalyon Menwa UI mendapat nomor urut 8 dalam jajaran Komando Resimen Mahasiswa Jayakarta.</span><span id="more-6"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Selain itu kami juga menyepakati seragam tim, yaitu loreng tentara Jerman. Ide ini berasal dari Bang Nazar, yang pada saat itu juga membawa contoh seragam. Selain itu Bang Nazar mengusulkan seragam kedua, yaitu<span> </span>seragam hitam-hitam seperti yang dipakai SWAT. Seragam loreng untuk pertempuran hutan, sedangkan yang hitam untuk pertempuran kota. Seragam kedua ini masih belum mendapat persetujuan forum. <span> </span>Beberapa hal lain juga dibahas dalam rapat tersebut, dan masih dalam bentuk wacana dan rencana yang akan kami realisasikan di kemudian hari.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pada tanggal 20 April 2008, kami yang menghadiri rapat di malam sebelumnya, terkecuali Hawk-Eye, berkunjung ke sebuah toko Airsoft Gun di POINS (Pondok Indah Square) Lebak Bulus. Kami juga menelpon Cifara yang lokasi kantornya berdekatan dengan PONS Lebak Bulus untuk menemui kami di sana. Cifara hadir beberapa saat kemudian, ditemani oleh <strong>Janu</strong>, teman baik Cifara dan Skipper. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Tujuan awaln kunjungan kami ke POINS adalah melihat-lihat harga perlengkapan dan peralatan Airsoft, serta memeriksa salah satu senjata milik Jatayu yang rusak. Tapi entah kenapa, pada saat itu kami semua malah membeli senjata-senjata baru (pada kesurupan kali yee). Walaupun pada malam sebelumnya, permbicaraan mengenai pemenuhan perlengkapan senjata anggota (yang rata-rata belum memiliki senjata pribadi) serta pembiyaannya masih dalam wacana, tetapi pada saat itu di POINS Lebak Bulus, wacana itu menjadi realita. Dan kami semua pulang ke rumah masing-masing dengan hari gembira dan bersemangat karena telah memiliki senjata baru yang siap tempur untuk skirmish berikutnya. So, apa yang terjadi pada tanggal 20 April 2008 melengkapi berdirinya klub Airsoft Gun baru yang bernama Cakra-8. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pada tanggal 26 April 2008, kami berkumpul kembali untuk berlatih menggunakan senjata baru. Selain itu terdapat perbedaan dalam hal taktik dan strategi pertempuran yang akan kami pakai. <span> </span>Hingga pertemuan kali ini adalah untuk membahas taktik dan strategi, sekaligus mencoba mempraktekkannya di lapangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis datang agak telat, sebab harus beribadah terlebih dahulu di gereja. Anggota Cakra yang lain sudah berdatangan, mereka antara lain Baag Nazar, Jatayu, Wecky dan Cifara. Ponco datang setelah penulis sampai di Mako, seperti biasanya dia adalah biang telat di tim kami. Ketika penulis datang anggota yang lain sedang asik membahas taktik dan strategi. Bahkan terdapat papan tulis yang digunakan untuk menggambarkan gerak pasukan nantinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah Ponco dan penulis telah berganti pakaian dan memepersiapkan perlengkapan. Kami menuju lapangan di belakan Mako untuk berlatih “kering“ taktik pergerakan pasukan. Latihan pergerakan yang kami lakukan di lapangan tersebut adalah taktik beregu dasar Resimen Mahasiswa. <span> </span>Cuaca tidak mendukung saat itu, sebab matahari sangat terik dan tepat di atas kepala kami, sebab sudah mendekati jam duabelas siang. Walaupun pergerakkan yang kami lakukan tidak banyak, tetapi rasanya panas sekali, keringat mengucur serta badan mendidih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah melakukan latihan kering, kami malakukan skirmish internal. Tim dibagi dua, sub-tim pertama terdiri dari Bang Nazar, Wecky, Ponco dan seorang Calon Anggota Menwa dengan julukan <strong>Anak Badak</strong> (Fuad), sub tim kedua terdiri dari Jatayu, Cifara dan Skipper. Kami bermain skenario <em>ambush</em> (penyergapan), subtim kedua masuk terlebih dahulu ke dalam hutan, subtim pertama akan menyusul setelah sepuluh menit dan memburu kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Di dalam hutan, Sub-tim penulissepakat untuk tidak melakuakan penyergapan, tetapi melakukan pergerakan melambung dan berusaha memotong lawan dari samping. So, kami melakukan rencana tersebut, dengan formasi berbanjar kami melambung mengitari hutan. Tetapi tampaknya ilmu medan kami kurang mumpuni, berusaha bergerak memotong jalur lawan dari samping malah kami bergerak ke titik awal masuk hutan. Sehingga kami berada kurang lebih di belakang mereka. Kami terus bergerak maju , dan beberapa saat kemudian Jatayu memberi kode bahwa lawan ada di depan kami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Jatayu membuka tembakan, kemudian disusul Cifara, hanya beberapa saat tembak menembak Bang Nazar keluar darri perlindungannya tanda telah tertembak, disusul oleh Ponco. Setelah daerah aman kami bergerak terus maju untuk melacak dua anggota sub tim lawan, Wecky dan Anak Badak. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah beberapa saat maju melacak sub-tim lawan dan tidak menemukan mereka, Cifara mengusulkanagar kami merubah formasi barisan dari berbanjar kebelakang, menjadi bersap kesamping. Menurut Cifara formasi ini cocok untuk melakukan penyisiran. Tetapi sayangnya karena kondisi daerah itu banyak terdapat semak belukar, formasi kami pecah. Cifara yang ada di sebelah kanan penulis tidak terlihat lagi, penulis terus maju ke depan berharap di depan dapat bertemu lagi dengan Cifara. Setelah beberapa saat, Jatayu yang berada di kiri penulis pun tidak terlihat akibat rimbunan semak. <span> </span>Penulis berhenti bergerak, karena formasi barisan yang sudah kacau. Untunglah penulis berhenti, sebab Jatayu yang mungkin berusaha menemukan penulis menyusul dari belakang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Jatayu bertanya dimana Cifara, dan Penulis menjawab bahwa dia hilang dari pandangan mata. Kami meformasi barisan kami lagi, tetap dalam posisi bersap Cuma karena terdiri dari dua orang saja, maka kami dapat menembus daerah tersebut dan tetap dalam formasi. Setelah lama mencari sisa tim lawan dan tidak menemukan mereka, kami merubah tujuan yaitu mencari Cifara. Jatayu berteriak-teriak memanggil Cifara, tetapi tidak ada sahutan, sehingga kami sepakat menuju Mako. Siapa tahu Cifara telah tertembak dan pulang menuju Mako. Kalupun tidak, kami dapat meminta bantuan dari teman-teman lain mencari Cifara. <span> </span>Di sana kami melihat Wecky, Anak Badak dan Cifara telah berkumpul bersama rekan-rekan cakra lainnya. Rupanya Cifara memang tertembak oleh Wecky dan Anak Badak yang setelah menembak Cifara memutuskan pulang ke Mako.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah beristirahat beberapa saat, kami melanjutakan permainan. Kali ini sub-tim penulis yang masuk belakangan. <span> </span>Kami menyusuri pagar pembatas hutan karena kami dapat lebih mengkonsentrasikan pengawasan kami ke arah kanan. Pagar tersebut berada di sebelah kiri jalur masuk kami, dan tidak mungkin ada tembakan dari arah tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ketika kami berpatroli maju dengan formasi bersap, Cifara ditembaki<span> </span>dari arah depannya. Penulis dan Jatayu segera menuju ke arah Cifara untuk membantu. Dan selanjutanya kami terlibat tembak menembak dengan sub-tim lawan. Kami menembak ke arah kiri, sebab dari arah tersebut peluru-peluru lawan melayang ke arah kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Selang beberapa saat, penulis berfikir harus ada yang melambung (<em>flanking</em>) untuk menyergap dari arah berbeda. Penulis berkata kepada Jatayu untuk memebrikan tembakan perlindungan sebab akan bergerak ke arah depan. Penulis berlari ke arah depan dengan dukungan tembakan perllindungan dari Jatayu. <span> </span>Penulis berfikir bahwa daerah tersebut aman, karena Cifara yang dari tadi memantau daerah tersebut tidak menembak ke arah tersebut. <span> </span>Tetapi perkiraan penulis meleset, rupanya di daerah tersebut, Ponco dengan nyamanya sedang dalam posisi menyergap. Ia menembak penulis dan mengenai sikut kiri penulis, rasanya sakit sekali. Penulis berteriak hit, mengangkat senjata dan keluar dari hutan itu. Hal terakhir yang penulis lihat adalah Jatayu dan Cifara yang bergerak mundur dari daerah konflik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Latihan kami hari itu selesai karena Wecky yang harus pulang karena ada janji dengan keluarganya. Dari dua sesi latih tanding internal antara kami, kami semakin terbiasa menggunakan senjata baru. Walaupun masih terdapat perdebatan tentang taktik strategi yang akan kami lakukan bila berhadapan dengan tim Airsoftgun lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Tanggal 1 Mei 2008, kami berkumpul lagi untuk berlatih. Penulis kembali datang telat, hari itu merupakan hari raya umat kristiani, penulis beribadah dahulu baru meluncur ke Mako. Tetapi seperti biasanya, Mr. Ponco yang rumahnya paling dekat ke Mako telat hadir. Ketika penulis sampai, ia belum hadir. <span> </span>Kali ini kami kedapatan pendatang baru yaitu Janu, ia adalah teman sekantor Cifara yang bertemu kami semua di POIN Lebak Bulus. <span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Tanpa menunggu Ponco yang memang biang telat, kami langsung memulai latihan hari itu. Seperti sebelumnya tim dibagi menjadi dua sub-tim. Sub-tim pertama terdiri dari Bang Nazar, Jatayu dan Cifara. Sedang sub-tim kedua terdiri dari Wecky, Janu dan Skipper. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sub-tim penulis masuk pertama ke dalam hutan, di dalam hutan kami menyusun formasi menyergap. Tidak linear tidak berbanjar, tapi mengikuti kondisi daerah hutan dimana kami akan meyergap lawan. Janu berada dekat penulis, ia mengguunakan senjata G-36 yang memiliki daya jangkau peluru lebih rendah dari yang penulis pakai. Penulis berada di sebelah kiri Janu, di daerah yang kedudukannya lebih rendah dari Janu. Wecky berada di sebelah kanan Janu, ia mengamankan serangan dari sisi pagar hutan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Sesaat kemudian, beberapa peluru melayang ke daerah pos penulis, karena daerah tersebut lebih rendah, peluru-peluru itu melayang di atas kepala penulis. Sesaat kemudian terdengan Janu menembak (suara G-36 sangat khas). Dan kemudian terdengar suara tembakan balasan, penulis berinisiatif untuk menembak, walaupun tidak ada lawan yang terlihat. Hal ini dimaksudkan agar konsentrasi lawan pecah, tidak terus menuju Janu. <span> </span>Beberapa saat kami tembak menembak, Janu tertembak. Karena kalah kekuatan, penulis mengambil langkah mundur ke arah Wecky ditengah hujanan tembakan sub-tim lawan. Antara Wecky dan penulis terdapat semak belukar besar yang menghalangi pergerakan penulis. <span> </span>Akhirnya penulis tertembak oleh Cifara, tembakannya muncul dari arah perpohonan, sementara penulis di daerah terbuka. AK-47 yang dipegang Cifara memang senjata yang hebat, selain suaranya yang redam jangkauannya pun jauh. Kehebatan senjata ini yang membingungkan penulis ketika Cifara menembaki penulis. Penulis bahkan tidak tahu harus membalas ke arah mana tembakan Cifara. Ronde pertama itu dimenangkan oleh sub-tim lawan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pada ronde kedua, sub-tim lawan masuk terlebih dahulu. Wecky dan penulis sepakat untuk tidak masuk melalui titik awal yang biasa. Kami berputar dan masuk melalui sisi barat hutan tersebut. Kami masuk dengan Wecky berada di depan, tetapi kami tidak berformasi apapun. Sehingga tiba suatu saat penulis menggantikan posisi Wecky untuk berada di depan. Kami memang tidak pernah memasang Janu di depan, pertama karena ia adalah pemula, kedua karena senjatanya yang tidak mumpuni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami memasuki daerah dengan rimbuan semak disekitar kami. Penulis yang berada di depan merasa bahwa daerah ini terlalu berbahaya. Dan selang beberapa saat kami melintasi daerah itu, terdengar suar tembakan dari sisi kiri penulis. Untung saja semak-semak yang rimbun menghalangi peluru-peluru BB mengenai kami. Kami mundur dahulu, lalu Wecky maju ke arah samping tembak menembak dengan lawan, ia melakukan gerakan-gerakan tiarap dan merayap. Penulis mengikuti Wecky sembari tiarap dan merayap, dibelakang penulis terdapat Janu. <span> </span>Penulis menembak ke arah rimbunan semak, walaupun lawan tidak terlihat, asal nembak saja. selang beberapa saat penulis tertembak dari arah rimbuan tersebut. Peluru BB itu mengenai kepala penulis, sakit sekali rasanya si penembak pasti berada dekat. Setelah penulis tertembak, Janu ikut tertembak. Kami berdua berteriak hit dan berjalan meninggalkan daerah konflik. Dan hanay sesaat kami berjalan, terdengar suara Wecky yang berteriak Hit. Pertempuran kali itu berlangsung sebentar, sub-tim penulis kalah lagi. Kami semua berjalan keluar hutan dengan kekesalan di sub-tim penulis, dan kebahagiaan sub-tim lawan, terlebih Jatayu yang senang sekali dua kali menang berturut-turut. Sementar penulis keluar hutan dengan kepala benjol terkena BB. Dan karena saatnya makan siang, maka kami tidak melanjutkan ke ronde ketiga tetapi beristirahat makan siang dahulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Selesai makan siang kami bermain lagi, kali ini Ponco ikut bergabung dengan kami (akhirnya datang juga), ia bergabung dengan sub-tim penulis. Kami masuk terlebih dahulu dan memilih lokasi penyergapan di dekat pagar hutan, karena lebih aman. Di sana kami meyusun formasi menyesuaikan dengan kondisi daerah, tidak berbanjar tidak bersap. Janu berada di sebelah kiri penulis, Wecky di kanan belakang penulis, sedangkan Ponco di belakang entah dimana melindungi<span> </span>kami dari serangan arah. Kami menunggu lama sekali bahkan sampai penulis terkantuk-kantuk, sebab penulis dalam posisi tiarap, tetapi sub-tim lawan tidak terlihat juga. Akhirnya Wecky mendatangi penulis, ia mengusulkan untuk mencari Ponco, sebab ia tidak terlihat keberadaannya. Kemudian kami bertiga bergerak mencari Ponco, lama mencari dan tidak menemukannya, akhirnya penulis melihatnya sedang bersembunyi. Penulis semapt tersentak kaget, karena teman satu ini benar-benar damai kalau sedang bersembunyi. Ponco berkata dari tadi melihat kami celingak-celinguk tapi ia membiarkan saja karena sedang asik “<strong><em>ambush</em></strong>“. Dasar Ponco, bukannya keluar dari persembunyiannya dan menegur kami yang sedang mencarinya, malah asik saja “<strong><em>camper strike</em></strong>“. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah kami berkumpul semua, kami sepakat untuk bergerak mencari lawan.<span> </span>Ketika kami sedang saling berbincang untuk memutuskan ke arah mana kami akan bergerak, kami ditembaki dari arah depan. <span> </span>Segera kami menyusun formasi paralel dengan posisi masing-masing tiarap dan akhirnya terjadi tembak menembak. Karena mengamati bahwa daerah di depan penulis sepertinya tidak ada lawan, maka penulis mendatangi Wecky dan berkata bahwa penulis akan melambung ke depan. Wecky setuju, ia dan rekan-rekan lainnya akan melakukan “<strong><em>Supressive Fire</em></strong>“ .</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Baru saja penulis meninggalkan posisi, terdengar suara Janu yang berteriak Hit. <span> </span>Penulis terus melaju ke depan dengan hati-hati karena tidak ada yang melindungi. Kehati-hatian ini membuat pergerakan penulis lambat. Setelah mendengar suara tembakan yang sudah jauh dan tidak menemukan siapapun, penulis merubah haluan pergerakan ke arah samping kiri, dengan tujuan mendekati posisi lawan dari belakang mereka. D tengah perjalanan, penulis berpapasan dengan Ponco yang sudah tertembak. Ponco menunjukkan di arah mana lawan berada, segera setelah Ponco mmelintas penulis bergerak ke arah tersebut. Penulis bertemu dengan Bang Nazar, kami berdua tersentak kaget, sebab jarak kami sangat dekat. Penulis berlari dari daerah pertemuan itu sembari menembak. Menyangka akan diburu oleh Bang Nazar, penulis mencari tempat yang tepat untuk menunggu sasaran. Tetapi Bang Nazar tidak terlihat juga, sesaat kemudian terdengar suara teriak Hit dari Wecky. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis akhirnya sendirian menghadapi tiga orang sub-tim lawan. Karena tidak mau terpojok, penulis bergerak<span> </span>menyusuri pagar hutan menuju tempat dimana Wecky dan Ponco tembak menembak dengan lawan. Tiba-tiba dari arah dalam hutan, Jatayu menembaki penulis. Penulis bertahan di balik pohon dan tembak menembak dengan Jatayu. Kekhawatiaran penulis adalah serangan dari arah dimana penulis berpapasan dengan Bang Nazar. Ketika Jatayu melonggarkan tembakan, penulis berlari ke arah pohon di sebelah kiri pohon dimana penulis bertahan saat ini. Ketika sampai di pohon tersebut, tanpa disangka-sangka penulis ditembaki Cifara yang berada di depan posisi penulis. Posisi Cifara jauh dari penulis, tetapi karena menggunakan AK-47 jarak bukanlah kendala. Ronde ketiga tersebut kembali dimenangkan sub-tim lawan, dan kembali penulis terkena peluru BB dari AK-47. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Dengan penuh semangat membara akibat kekalahan tiga kali berturut-turut, sub-tim kami memulai ronde keempat. Sub-tim lawan masuk terlebih dahulu, kali ini Bang Nazar tidak ikut bertempur karena kelelahan. Ponco berpindah sub-tim bergabung dengan Jatayu dan Cifara. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Wecky bertanya kepada penulis arah mana sub-tim kami masuk, penulis menjawab bahwa lebih baik masuk menyusuri pagar hutan. Wecky berkata lagi bahwa kali ini kami bermain bebas, maklum sudah tiga kal ikalah, buat apa juga menyusun formasi dan strategi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami melihat seseorang berlari di arah depan, penulis langsung menembakinya. Seseorang itu (yang belakangan diketahui adalah Jatayu) tidak balas menembak malah lari menjauh. Sub-tim kami terus maju merangsak, tiba-tiba dari arah kiri kami ditembaki. <span> </span>Janu yang berada di samping kanan penulis balas menembak. <span> </span>Penulis tidak menembak, sebab tidak melihat sasaran apapun, tetapi terus maju ke depan. Di depan penulis melihat sebuah siluet bersembunyi di balik perpohonan, penulis awalnya menyangka bahwa siluet tersebut adalah Ponco. Penulis menembaki <span> </span>siluet tersebut sampai terdengar suara Hit. Si pemilik siluet tersebut keluar dari persembunyiannya, ternyata ia adalah Cifara.<span> </span>Karena kehabisan peluru, penulis meminta bertukar senjata dengan Cifara. Untung ia mau, maklum Cifara memang orang Betawi yang <em>baek</em> budi <em>geetoo</em> lho. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah berganti senjata, penulis melihat seseorang berlari-lari arah kanan belakang<span> </span>dan Jatayu yang sedang mendekati posisi Janu. Penulis menyangka orang yang belari tersebut adalah Ponco yang bersama Jatayu hendak menyergap kami. Penulis menembaki orang itu sembari mendekatinya untuk mendapatkan “<strong><em>clear shot</em></strong>. Ketika mendekati orang itu, penulis melihat Jatayu berada dekat sekali dengan Janu, penulis menembaki Jatayu lalu bergantian menembaki orang itu.<span> </span>Lalu terdengar suara Cifara yang amsih belum jauh dari tempat itu, ia berteriak bahwa penulis menembaki teman sendiri. Seseorang yang berlari-lari tersebut ternyata ia adalah Wecky, salah tembak deh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Karena Janu terganggu konsentrasinya akibat kejadian salah tembak tersebut, ia dapat dihabisi oleh Jatayu. Setelah menembak Janu, Jatayu berteriak-teriak memanggil Ponco, tetapi Mr.Ponco tidak kunjung datang. Akhirnya penulis tembak menembak dengan Jatayu, Wecky yang berada di arah samping kanan penulis bertanya dimana sasaran. Penulis menunjukkan dimana posisi sasaran dengan peluru BB (alias dengan tembakan). Kami berdua mengepung Jatayu dan terus maju merangsak, Ponco tidak kunjung datang membantu Jatayu sampai akhirnya Jatayu berteriak Hit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Setelah Jatayu Hit, Wecky bergerak ke arah kanan, rupanaya di sana Ponco sedang menunggu mangsa (kenapa bukan dari tadi datang membantu Jatayu). Ponco berhasil menembak Wecky, tetapi ia tidak melihat penulis dan penulis pun tidak tahu di mana posisinya. Wecky berteriak kepada penulis untuk menghabisi sisa terakhir kekuatan lawan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis tahu gaya permainan Ponco yang “<strong><em>camper strike</em></strong>“, taktik seperti ini tidak mungkin dikalahkan dengan serangan langsung. Penulis memutuskan bergerak melambung ke arah kiri dengan senyap dan sangat hati-hati. Dan akhirnya penulis melihat Ponco sedang tiarap menunggu mangsa. Langsung saja penulis menembaki badan Ponco, karena jarak antar kami cukup dekat. Ponco berteriak Hit, tetapi setelah berteriak menembak balik, dasar Ponco.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Akhirnya puas juga sub-tim penulis, yang walaupun kalah tiga kali berturut-turut, tetapi berhasil memenangkan ronde keempat. Latihan hari itu ditutup dengan urun rembuk diantara kami untuk membahas persiapan kami menghadapi pertemuan dengan ARCAT di bulan Mei. Karena tetap tidak ada kesepakatan tentang taktik dan strategi yang akan digunakan bersama, akhirnya kami sepakat untuk bermain sesuai gaya permainan yang nyaman bagi masing-masing. Bagi mereka yang senang berformasi maka berformasilah, bagi yang senang dengan kebebasan gerak maka bergeraklah secara bebas. Selain itu kami juga memutuskan untuk membuat base camp dan tempat parkir bagi Airsofter, agar tidak menggangu latihan rekan-rekan Menwa yang juga berlatih di hari sabtu.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cakra8.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cakra8.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=6&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/05/30/cakra-8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Cavallary</title>
		<link>http://cakra8.wordpress.com/2008/05/19/the-cavallary/</link>
		<comments>http://cakra8.wordpress.com/2008/05/19/the-cavallary/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 May 2008 01:30:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ben78</dc:creator>
				<category><![CDATA[Skirmish]]></category>
		<category><![CDATA[Airsoft]]></category>
		<category><![CDATA[Cakra-8]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa]]></category>
		<category><![CDATA[Menwa UI]]></category>
		<category><![CDATA[Military]]></category>
		<category><![CDATA[militer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://cakra8.wordpress.com/2008/05/19/the-cavallary/</guid>
		<description><![CDATA[Bulan depannya, Sabtu tanggal 5 April 2008, kembali tim ARCAT menjambangi Markas Komando Menwa UI. Kali ini jumlah mereka lebih banyak, dengan senjata-senjata yang lebih mantap lagi. AEG (Airsoft Electric Gun) semacam Minimi, terlibat dalam pertempuran kali ini. ARCAT tidak sendirian, mereka mengundang tim lain GAT (Gramedia Airsoft Tim). Tim ini berseragam loreng hijau macam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=5&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Bulan depannya, Sabtu tanggal 5 April 2008, kembali tim ARCAT menjambangi Markas Komando Menwa UI. Kali ini jumlah mereka lebih banyak, dengan senjata-senjata yang lebih mantap lagi. <strong><span lang="IT">AEG</span></strong><span lang="IT"> (<em>Airsoft Electric</em> <em>Gun</em>) semacam Minimi, terlibat dalam pertempuran kali ini. </span>ARCAT tidak sendirian, mereka mengundang tim lain <strong>GAT</strong> (Gramedia Airsoft Tim). Tim ini berseragam loreng hijau macam seragam tentara Amerika. Sedangkan tim ARCAT,mayoritas berpakaian seragam gelap macam SWAT atau tim GEGANA POLRI, walaupun tidak semua, ada juga yang memakai loreng hijau, loreng gurun dan ada yang berkostum seperti mau berburu rusa.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-5"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Terdapat perubahan personil dalam tim Veteran MENWA UI, Bang Nazar dan Chandra tidak bermain kali ini. Bang Nazar sedang sakit, sedangkan Chandra terlalu kelelahan akibat latihan beladiri di malam <span> </span>Jumat sebelumnya, dan persiapan untuk melatih renang anggota baru MENWA UI di Sabtu sore. Untuk menambah personil, Jatayu mengajak seorang rekannya bernama <strong>David</strong> untuk bergabung dengan tim kami. Ia mengaku sebagai pemula, terlihat dari kostumnya yang seperti seorang pemburu rusa. Penulis juga mengajak <strong>Cifara</strong> (Mujar Ismanta), seorang veteran MENWA UI dan sahabat penulis. Walaupun ia adalah seorang veteran MENWA, dan sudah penulis ingatkan untuk memakai seragam PDL (Pakaian Dinas Lapangan) MENWA, tetapi rupanya Cifara masih “<em>ogah-ogahan</em>” mengikuti permainan ini. Kostum yang dipakainya adalah baju atasan hitam, celana kain serta sendal. Seperti mau <em>Outbound</em> saja, mentang-mentang Cifara bekerja di <em>Event Organizer</em>. Ya terserah <em>deh</em>, yang penting main. <em>So</em> personil dalam pertempuran kali ini adalah, Jatayu, Wecky, Cifara, Yuni, Ponco, David dan Skipper.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Karena jumlah tim Veteran Menwa UI sedikit, sedangkan tim ARCAT sangat membludak. <span lang="DE">Maka tim Veteran MENWA UI bergabung bersama GAT untuk menghadapi ARCAT. Dari seragam sudah cocok, sebab GAT memakai seragam loreng hijau tentara Amerika sedangkan Veteran MENWA UI memakai seragam PDL hijau polos (kecuali beberapa orang). </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Pertempuran pertama seperti bulan lalu terjadi di hutan sebelah selatan Mako. Skenarionya adalah merebut bendera yang ditempatkan di tengah hutan. Tim ARCAT memulai dari MAKO MENWA menuju tengah hutan, sedangkan Veteran Menwa dan GAT memulai dari sisi danau UI menuju tengah hutan. Pada awalnya Jatayu menugaskan Penulis bersama Cifara untuk bertim dengan seorang anggota GAT yang memakai senjata <em>Sniper</em>, kalau tidak salah bernama Yudhi. Tepai ketika kami sudah masuk ke dalam hutan, terdapat perubahan rencana. Tim GAT dan Veteran MENWA bergerak sendiri-sendiri. Maklum karena baru bertemu saat itu, sehingga antara GAT dan Veteran MENWA UI belum terjadi harmonisasi irama permaian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Tugas berubah, sekarang Cifara dan Penulis bertugas sebagai Pandu di depan sub-tim Veteran MENWA<span> </span>UI yang terdiri dari Jatayu, Yuni dan David. Sub-tim lainnya, Wecky dan Ponco bergerak sendiri ke arah lain. Pembagian tim ini cukup taktis, walaupun tidak dihasilkan dari perencanaan yang matang. Satu tim berbobot berat karena beranggota lebih banyak, sedangkan tim lain lebih ringan dan bergerak lebih cepat. Tetapi kekurangan dari tim kami adalah tidak jelasnya arah dan tujuan pergerakan, masing-masing sub-tim bergerak sendiri-sendiri mencari bendera. Kami tidak saling mengetahui posisi masing-masing, sehingga bila terjadi kontak tidak dapat saling mendukung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Sub-tim Penulis bergerak melakukan patroli senyap untuk mencari bendera. Mujar bergerak di depan, tetapi ia bergerak terlalu cepat (maklum <em>Jangkis</em>) dan tidak memperdulikan teman di belakanggnya. Penulis tepat di posisi kedua setelah Cifara, untuk menjaga kesenyapan, penulis tidak dapat menghubungi Cifara untuk memperlambat langkahnya dan memperhatikan regu dibelakanggnya. Dan keaadaan ini berbahaya bagi Cifara dan tim.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Suatu ketika, penulis mendeteksi pergerakan di sisi kanan penulis. Segera situasi ini penulis informasikan ke regu di belakang dengan menggunakan sinyal tangan. Tetapi, posisi Cifara terlalu jauh, penulis tidak dapat menghubunginya untuk menjaga kesenyapan. Sub-tim kami (kecuali Cifara yang terlalu jauh di depan), membentuk<span> </span>formasi bertahan. Tiba-tiba beberapa anggota GAT muncul dari arah kanan belakang kami, untung seragam mereka dapat dikenali bila tidak maka bisa terjadi “jeruk makan jeruk”. Jatayu melakukan kontak pertama, disusul GAT, sedangakan penulis bersama Yuni mencari posisi lain. Penulis melihat<span> </span>tangan seorang anggota ARCAT,<span> </span>bersama Yuni penulis melakukan kontak. Penulis menembak terlebih dahulu, kemudian disusul Yuni. Tim GAT berbaik hati pada Yuni (mentang-mentang wanita <em>gitu lho</em>), mereka memberikannya AEG. Sehingga Yuni dapat menembak tanpa mengokan terlebih dahulu. Hanya beberapa saat saja kami kontak, seorang anggota ARCAT keluar dari posisinya, sembari berteriak “<em>Dead man Walking</em>”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Penulis tahu bahwa tidak mungkin ia sendirian, pasti ada beberapa anggota ARCAT lain besertanya. Sehingga penulis menahan diri untuk bergerak ke depan, sebelum tahu di mana posisi ARCAT lainnya. Yuni protes, ia berkata bahwa kami tidak mungkin terus bertahan. Penulis setuju dengan Yuni, tapi kami harus bergerak bersama, dengan rekan –rekan lainnya. Bergerak sendiri bukanlah ide yang bagus. Di belakang Penulis terlihat David bersama seorang anggota GAT dalam posisi bertahan, sedangkan Jatayu sudah tidak tampak rimbanya sedang dua orang anggota GAT lain yang sudah tertembak keluar dari permainan.<span> </span>Penulis hendak mengajak David dan rekan GAT, tapi maklum karena baru kenal jadi agak-agak ragu. Yuni terus menyatakan pendapatnya, sementara penulis masih bimbang hendak bergerak bersama Yuni atau bertahan bersama rekan-rekan lain (perempuan semua <em>kayak</em> begitu suka buat lelaki bingung). Kami masih dalam posisi bertahan seperti benteng, lalu peluit panjang terdengar. Rupanya ARCAT berhasil merebut bendera, dan tim gabungan MENWA dan GAT kalah di sesi pertama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Sekali lagi Tim Veteran MENWA UI melakukan kesalahan seperti permainan bulan sebelumnya. Kami belum bergerak sebagai tim dengan koordinasi yang baik. Semua hanya ingin menembak lawan dan jadi Rambo. </span><span lang="DE">Terlebih lagi kami harus bergabung bersama GAT yang baru kami kenal hari itu. Sehingga benar-benar <strong>barisan yang berantakan</strong>. Penulis mengamati bahwa <strong>faktor komunikasi</strong> juga merupakan kendala. Andai kami mempunyai komunikasi yang baik, Cifara mungkin tidak akan lepas dari regu, Jatayu tidak akan hilang entah kemana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Pertempuran kedua dilaksanakan setelah makan siang, kali ini Yuni<span> </span>tidak mau berada dalam sub tim penulis. Karena ia menghendaki pasangan yang tidak hati-hati seperti penulis, tetapi yang <em>gerabak-gerubuk</em> (dasar perempuan, begitu bosan ditinggalkan..he..he). </span><span lang="IT">Pertempuran dilakukan di hutan sebelah utara Mako, seperti bulan kemarin. Skenarionya adalah Pasukan Pemerintah (Tim ARCAT) akan menuju markas Teroris (MAKO MENWA) untuk melakukan pendudukan, sementara Pasukan Teroris ( Veteran MENWA UI dan GAT ) berusaha memotong jalur mereka. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">GAT mengusulkan agar pasukan Teroris yang bersenjata <em>shotgun</em> tidak berhadapan langsung dengan ARCAT tetapi sebagai <em>back-up</em>. Dan tim GAT juga mengusulkan ada dua orang yang menunggu di dekat MAKO untuk menyikat yang lolos dari hutan. Tadinya penulis yang ditugaskan, tetapi diganti oleh Jatayu. Penulis hendak bertukar senjata dengan Jatayu yang memakai AEG,<span> </span>sebab tidak mungkin menyikat mereka bila memakai <em>shotgun</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Tetapi walau sudah susun strategi, tetap pola permainan di lapangan tidak sesuai rencana. Tim teroris pecah menjadi beberapa sub-tim yang bergerak sendiri-sendiri tanpa arah pergerakan yang jelas. Tim pertama adalah GAT , kedua adalah Jatayu dan David, ketiga adalah Penulis dan Cifara, sedang keempat adalah Wecky, Ponco dan Yuni. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">GAT masuk melalui jalur yang dilintasi ARCAT ketika mereka masuk. Jatayu masuk ke hutan melalui arah barat laut dari MAKO, tim Penulis dan tim Wecky berada di arah barat. Di antara Mako dan waduk danau UI terdapat jalan tanah yang besar. Jalan tersebut diapit oleh dua hutan, Penulis dan Cifara berada di hutan sebelah utara jalan tersebut. Sedangkan tim<span> </span>Wecky <span> </span>berada di selatan. Kami melakukan kesalahan lagi, jarak antar sub-tim terlalu jauh satu sama lain. Barisan kami terlalu longgar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Awalnya Cifara mengusulkan agar melakukan strategi<span> </span><em>Kamper Strike</em>, menunggu pasukan pemerintah lewat <span> </span>lalu menyikat mereka. Tetapi penulis berpendapat lain, mengingat persenjataan dan jumlah kami yang sedikit. Pasukan pemerintah yang lewat bisa saja berjumlah banyak. Sehingga tidak mungkin bertempur frontal dengan mereka. Sehingga kami sepakat untuk melakukan patroli senyap. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Patroli dengan Cifara kali ini cukup baik, sebab kami memakai taktik pergerakan yang berbeda dari sebelumnya. Caranya adalah bergerak secara bergantian baik ketika akan maju atau mundur. </span><span lang="DE">Ketika salah satu bergerak yang lain diam melindungi. Setelah yang personil yang bergerak berhenti, yang lain akan bergerak melewati teman sembari menepuk bahunya sebagai tanda telah melewat dan teman tersebut ada di posisi belakang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Patroli kami berusaha tidak melewati daerah terbuka, tetapi struktur geografis hutan tidak mengijinkan kami melakukan itu. Sempat kami bertemu dengan seorang ibu-ibu yang sedang berkebun singkong. Supaya si ibu tidak ketakutan, penulis berkata padanya bahwa kami sedang latihan. Di dekat kawasan kebun singkong tersebut kami melakukan kontak dengan ARCAT.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ketika kami melanjutkan patroli melewati perkebunan singkong tersebut, Cifara mendeteksi adanya pergerakan di depan kami. Patroli kami berada di lokasi yang agak kurang menguntungkan, di antara jalan setapak yang sering dilalui penduduk dengan sebuah kebun singkong yang terbuka. Di situ terdapat semak-semak untuk bersembunyi, Cifara berada di semak-semak tersebut sedang penulis berada di belakanggnya, tepat ketika <span> </span>beberapa anggota tim ARCAT hendak melintas. Kami melihat tangan salah satu ARCAT, mereka bahkan memancing kami dengan berpura-pura berbincang satu sama lain, tetapi hanya sebentar lalu mereka diam. Mungkin sedang mengatur<span> </span>formasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Penulis berfikir bahwa mereka tidak bisa dibiarkan mengatur formasi, maka penulis menembak duluan, walaupun lawan tidak terlihat. Mereka mebalas menembak, penulis berpindah posisi, Cifara menembak dan konsentrasi tembakan ARCAT menuju Cifara. Penulis berteriak kepada Cifara agar mundur, mendengar teriakan tersebut<span> </span>ARCAT merubah arah tembakan mereka ke arah penulis. Tiga buah peluru BB mengenai tubuh penulis dan penulis berteriak “HIT”, tetapi mereka terus menembak sampai penulis harus berteriak dua<span> </span>kali lagi “HIT&#8230;HIT”, dan salah satu dari mereka berteriak<span> </span>“<em>Cease Fire</em>&#8230;.” yang artinya hentikan tembakan dalam bahasa inggris. Pada saat mereka menghentikan tembakan Cifara dapat melarikan diri kearah belakang. Sementara penulis pulang menuju MAKO dengan mengangkat senjata yang artinya telah tertembak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Di perjalanan penulis berpapasan dengan tim ARCAT yang sedang bergerak menuju MAKO dari arah Danau, sementara itu penulis mendengar bunyi ranting-ranting patah dari hutan dimana Wecky berserta timnya berada. Penulis tahu bahwa itu adalah tim Wecky yang sedang mendekati tim ARCAT. Selang beberapa saat setelah sampai di tempat para “Anumerta“ pertempuran berada, beberapa anggota ARCAT masuk dari arah selatan MAKO. Hutan yang menjadi tempat pertempuran pertama. Mereka datang tanpa terhadang sama sekali, tanpa menembak dan ditembak. Penulis berbincang-bincang dengan para “Anumerta“ ARCAT , mereka rupanya membagi tim menjadi empat sub-tim yaitu <em>Alpha</em>, <em>Beta</em>, <em>Charlie</em> dan <em>Delta</em>, kemudian berpencar menuju sasaran. Strategi yang bagus dalam skenario ini sebab dengan demikian pasukan pencegat akan kerepotan. Dan ini sudah terbukti, dengan dua tim yang berhasil lolos tanpa kontak senjata sama sekali. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Ketika bertemu Cifara di kamp “Anumerta”, penulis berdiskusi dengannya, bahwa lebih baik bila tadi kita tidak menembak duluan. ARCAT mungkin tidak tahu keberadaan kami. Seharusnya kami melewatkam mereka untuk kemudian memburu dari belakang. Tetapi penulis juga yang salah karena terlalu terburu nafsu menembak dahulu, padahal persenjataan kalah jauh dengan lawan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">ARCAT kembali memenangkan permainan, dua tim mereka lolos sedang dua tim lain terbantai. Penulis mengakui keunggulan taktik mereka, mereka memecah tim dan walaupun tim ini bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi, tetapi tujuan mereka jelas. Skenarionya juga mendukung sih, tim teroris yang berusaha menjaga mereka tentunya kewalahan sebab tidak tahu dari arah mana pasukan pemerintah akan masuk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="DE">Kami beristirahat sekitar setengah jam sebelum bertempur untuk ketiga kalinya. Seperti biasa ronde tiga ini adalah perang terbuka. Lokasi perang terbuka tidak lagi di depan MAKO sebab, persenjataan yang dipakai cukup berbahaya untuk mengenai orang-orang sekitar. </span><span lang="IT">Kami bertempur di dekat Asrama UI, di sana terdapat lokasi yang baik untuk bertempur. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Pada intinya pertempuran ketiga ini adalah antara ARCAT dan GAT, Veteran Menwa UI karena rata-rata bersenjatakan <em>shotgun</em> dibagi ke kedua kubu. Skenarionya adalah merebut bendera yang diletakkan ditengah-tengah arena. Cifara, Yuni, Ponco dan Penulis masuk ke tim ARCAT sementara Jatayu dan David berada di tim GAT. <span> </span>Wecky tidak mengikuti pertempuran ketiga karena harus menghadiri acara <em>kondangan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Seperti biasa para <em>shotgunner</em> maju duluan, karena jarak tembak kami tidak sejauh yang senjata AEG. Pertempuran dimulai, Cifara dan penulis langgsung berlari ke arah sebuah pohon besar yang terdapat gundukan. Disana kami berlindung untuk menembak lawan, sementara ARCAT berada dibelakang kami meberi tembakan perlindungan. Tetapi bagaimanapun senjata <em>shotgun</em> kami kalah jarak dengan AEG. Seorang<span> </span>tim GAT dengan minimi menembaki ke arah kami, tetapi ketika membalas tembakan, peluru kami tidak dapat mencapai lawan ”..<em>kaciaaannn dehhh</em> kita&#8230;.”. Sehingga penulis dan Cifara hanya jadi sasaran tembak, kontak senjata sebenarnya terjadi antara GAT dan ARCAT. Tetapi yang penulis herankan adalah kenapa anggota GAT yang memakai minimi itu terus menembak ke arah penulis dan Cifara, peluru kami kan tidak sampai ke arahnya. Sebaiknya sih dia menembak ke arah ARCAT, mereka potensi <span> </span>bahaya <span> </span>sebenarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Rencanyanya pertempuran ketiga akan berlangsung tiga ronde. Tetapi karena kehabisan peluru, batere senjata yang melemah serta “batere biologis” yang turun drastis, pertempuran dihentikan. ARCAT memenangkan pertempuran ketiga, mereka memenangkan keseluruhan pertempuran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Akhirnya kami semua bubar, tentu diakhiri dengan saling bersalaman dan janji akan bertemu lagi. Ada berita sedih sore itu, Yuni berkata bahwa ini adalah partisipasi terakhirnya di tim Airsoft Gun Menwa UI. Sebab selama enam bulan ke depan nona ini akan bekerja di Aceh. Sedih juga sih kehilangan “pemanis” dalam tim, satu-satunya wanita dalam tim kami. </span><span lang="DE">Terus terang antara Yuni dan Jatayu pastilah lebih manis Yuni. <em>So</em> tidak tahu pertempuran seperti apa yang akan terjadi bulan depan, sebab Jatayu berkata bahwa “&#8230;mereka akan kembali&#8230;“</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/cakra8.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/cakra8.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/cakra8.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/cakra8.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/cakra8.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/cakra8.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/cakra8.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/cakra8.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/cakra8.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/cakra8.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/cakra8.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/cakra8.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/cakra8.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/cakra8.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/cakra8.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/cakra8.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=cakra8.wordpress.com&amp;blog=3884977&amp;post=5&amp;subd=cakra8&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://cakra8.wordpress.com/2008/05/19/the-cavallary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">ben78</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
